Langsung ke konten utama

Sayang Buku, Rawat Buku

Buku-buku yang disampul terlihat rapi.



Sudah lama sekali saya tidak posting tulisan di blog. Ibarat rumah, sepertinya blog ini sudah dipenuhi sarang laba-laba. Tapi tak apalah, daripada tidak ditengok sama sekali. (Dasar alasan!)
Yap, tulisan pertama saya di tahun 2019 ini adalah cara merawat buku.

Sampul gulung mika


Perawatan buku yang paling standar adalah menyampul buku (dengan sampul plastik). Agar jika tidak sengaja terkena air, noda, atau segala macam kotoran, yang kena sampul plastiknya.
Biasanya saya menggunakan sampul plastik mika yang tebal. Dibeli dalam bentuk gulungan panjang. Kelebihan sampul plastik mika adalah tidak mudah robek. Lalu pemotongan sampul bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Apakah buku besar atau kecil?

Menggunakan sampul plastik mika juga tidak perlu isolasi lagi. Karena kalau kita menyampulnya pas (sampul yang dipotong tidak kebesaran), nanti plastik itu akan menempel ketat di buku. Tidak bakal lepas meskipun buku dibuka tutup atau jatuh. (Kecuali memang lipatan sampulnya sengaja dibuka.) Jadi kalau menyampul buku dengan plastik mika, saya tidak perlu isolasi lagi. Cukup sediakan gunting untuk memotong.


Bekas lem dari isolasi


Tapi kalau mau pakai isolasi, (biar mantap, nih, ceritanya) boleh juga. Cuma kekurangannya, tempelan isolasi akan meninggalkan bekas lem yang jelek. Bekas lem ini juga bisa didapat dari tempelan label harga. 


Minyak kayu putih untuk menghilangkan bekas lem.

Saya punya tips untuk mengatasinya. Oleskan sedikit minyak kayu putih pada tempat yang ada bekas lem. Diusap ringan dengan tissue atau kain, nanti bekas lem akan terkelupas dengan mudah dan bersih. Bisa juga pakai balsam atau minyak goreng (pokoknya apa pun yang mengandung minyak).
Oya, saat menyampul buku jangan terlalu pelit. Berikan sisa lipatan yang agak lebar di bagian dalam buku. Lipatan ini bisa digunakan untuk menyimpan pembatas buku, struk pembelian buku, atau kartu ucapan jika buku itu hadiah dari seseorang.


Berikan sisa lipatan yang agak lebar di bagian dalam buku.

Oya, bagian sudut sampul buku dilipat ke dalam, ya. Jangan ke luar. Biar rapi.


Bagian sudut sampul dilipat ke dalam.


Buku setelah disampul

Simpan buku di rak atau lemari yang mendapat cukup cahaya matahari agar tidak lembap. Beri kapur barus di sudut-sudut tempat penyimpanan buku agar terhindar dari rayap. Sering-sering bersihkan buku dengan kemoceng, karena pasti kena debu. Minimal tiga bulan sekali bongkar rak dan ubah susunan buku. Ini berguna untuk melihat kondisi buku, apakah ada hewan-hewan kecil nakal, apakah ada buku yang terlipat saat kita mengembalikan ke rak, dan juga menghindari kebosanan. Biasanya saya menyusun buku berdasarkan nama pengarang, penerbit, atau urut-urutan nomor seri.
Itulah sedikit tips dari saya untuk merawat buku.

Simpan buku di dalam rak dengan rapi.


Semoga bermanfaat.

Komentar

  1. numpang share ya min ^^
    Hayyy guys...
    sedang bosan di rumah tanpa ada yang bisa di kerjakan
    dari pada bosan hanya duduk sambil nonton tv sebaiknya segera bergabung dengan kami
    di DEWAPK agen terpercaya di add ya pin bb kami D87604A1 di tunggu lo ^_^

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kan, Masih Anak-Anak!

Anak-anak selalu digambarkan sebagai sosok yang aktif, lucu, menggemaskan, manja, dan nakal. Kata terakhir inilah yang mengendap begitu lama dalam pikiran saya, sehingga membuat saya tergelitik untuk membuat tulisan ini. Sampai sejauh mana kenakalan anak-anak masih bisa ditolerir, dianggap wajar? Ada seorang ibu yang berkunjung ke rumah temannya sambil membawa anak kecil. Anaknya sangat aktif, tidak bisa diam. Berlarian ke sana kemari sambil memegang barang-barang milik tuan rumah. Apa saja dipegang. Gelas minuman, toples makanan, helm, hiasan pajangan, keramik ... Sepasang mata sang tuan rumah--yang juga perempuan--tak lepas mengawasi sambil berusaha mendengarkan apa yang dibicarakan tamunya. Sesekali tersenyum. Namun hatinya berbisik waswas, Aduh, nanti kalau pecah bagaimana, ya? Sementara ibu tamu tetap duduk manis di sebelah tuab rumah, mengobrol dengan serunya. Hanya sesekali berseru, "Adek, jangan! Ayo kembalikan! Jangan ke sana-sana, tidak boleh!" ...

Pinjam Bukunya, Dong!

"Pinjam bukunya, dong!" Bagaimana reaksi teman-teman jika ada yang mengungkapkan kalimat itu? Meminjamkan buku dengan senang hati? Meminjamkan buku dengan waswas dan kasih pesan atau peringatan macam-macam? Atau menolak sama sekali? Kalau saya, ambil pilihan ketiga: menolak sama sekali. Saya paling anti meminjamkan buku pada orang lain. Silakan bilang saya pelit, sok, gaya, atau apa pun. Tapi saya jadi pelit bukan tanpa alasan. Banyak pengalaman buruk saya berhubungan dengan pinjam-meminjam buku. Buku kembali dalam keadaan lecek/lusuh, rusak, dicoret-coret, bahkan tidak kembali. Dulu saya tidak terlalu peduli ketika buku yang dipinjam rusak atau tidak kembali. Tapi sekarang buku menjadi benda kesayangan yang setelah diadopsi saya rawat dan jaga baik-baik. Jadi jika sampai terjadi kerusakan atau kehilangan pada buku yang dipinjam, jangan salahkan jika saya jadi galak!  Buku saya yang rusak setelah dipinjam teman Foto di atas adalah contoh buku yang ...

Amplop Sumbangan, Sosial Atau Gengsi?

Peristiwa ini sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Waktu itu, di lingkungan tempat sekolah saya berada, salah seorang warganya meninggal dunia. Kegiatan belajar mengajar diakhiri lebih cepat dan guru-guru mengimbau agar kami, para siswa menyempatkan diri untuk melayat ke rumah duka walau sebentar. Saya dan teman sebangku sepakat akan melayat bersama. Kami membeli amplop putih kecil untuk memasukkan uang sumbangan.  Teman saya melihat sejumlah uang yang akan saya masukkan dan cepat-cepat mencegah. "Jangan segitu! Kebanyakan!" Kemudian teman saya menjelaskan bahwa biasanya jumlah uang yang diberikan untuk sumbangan orang meninggal tidak banyak. Kalau sumbangan untuk orang menikah, barulah orang akan memberi banyak. Saya kurang memerhatikan aturan "sumbang-menyumbang". Karena ketika saya masih SMA, tentu saja yang punya kewajiban "nyumbang" adalah orangtua. Namun saya tidak paham dengan tradisi pemberian sumbangan yan...