Jika dulu profesi penulis sering
dipandang sebelah mata, sekarang keadaan berbalik seratus delapan puluh
derajat. Banyak orang berlomba-lomba ingin menjadi penulis. Ini merupakan kabar
yang menggembirakan dan membanggakan. Hanya saja menjadi penulis tidak semudah
yang dibayangkan. Ada banyak sekali hambatan yang membayangi para
penulis—terutama yang masih pemula—untuk menjadi penulis hebat. Apa saja
hambatan itu? Simak yuk!
1. Banyak alasan
Katanya sih ingin jadi penulis, tapi
setiap kali disuruh menulis ada saja alasan untuk menghindar. Yang sibuklah,
tidak sempatlah, capeklah, suasana tidak mendukunglah, tidak ada idelah, sedang
tidak mood-lah, inilah, itulah...
Penulis seperti ini sekali-kali perlu “digebukin” (Bercanda!). Ada satu hal
yang harus diingat, mereka yang bercita-cita ingin menjadi penulis hampir bisa
dipastikan diawali dari hobi atau kesenangan. Jika seseorang menyukai sesuatu,
apakah dia akan menghindar melakukan hal yang disukainya itu? Jawabannya adalah
tidak! Orang yang menyukai sepak bola tidak mungkin menghindar menonton sepak
bola. Orang yang menyukai film tidak mungkin menghindar menonton film, begitu
juga dengan menulis. Orang yang menyukai menulis seharusnya tidak akan menghindar dari menulis. Seandainya ada yang
menghindar maka orang itu patut bertanya pada diri sendiri, “Apa aku
benar-benar menyukai menulis?” Karena jika kita sudah menyukai sesuatu, apa pun
yang menjadi penghalang atau hambatan pasti akan disingkirkan! (Kalau sudah
cinta, apa pun akan dilakukan! Betul?) Jadi kalau mau jadi penulis jangan
banyak alasan, menulislah!
2. Suka Menunda-nunda
“Aku mau nulis, tapi nanti habis
cuci piring!”
“Aku mau nulis, tapi nanti habis
nyapu!”
“Aku mau nulis, tapi nanti pulang
dari jalan-jalan!”
“Aku mau nulis, tapi nonton drama
Korea dulu!” (Hehe...)
Hayo! Siapa yang suka begini?
Beginilah penulis yang suka menunda-nunda. Katanya mau ikut lomba cerpen, tapi
tidak segera dikerjakan. Ya keburu habis waktu lombanya! Hei, ingat, sebuah
peribahasa Arab mengatakan bahwa “Waktu adalah pedang.” Apalagi bagi penulis
yang nyaris selalu dikejar-kejar deadline
sampai liang kubur (kalau seumur hidupnya jadi penulis). Tidak apa-apa
kalau hanya tidak jadi ikut lomba cerpen. Masalahnya seandainya kamu menulis
naskah pesanan dari penerbit mayor, diberi deadline
malah santai-santai, bersiap-siaplah dihabisi oleh pedang waktu! Ada penerbit
mayor yang memberlakukan sistem denda bagi penulis yang melewati batas deadline. Jika terlambat satu minggu
maka honor akan dipotong sekian rupiah. Tapi kalau kamu kelewat baik hati dan
rela honornya disunat terus ya tidak apa-apa, kok!
3. Tidak Disiplin
Penulis tidak disiplin adalah
penulis yang “angin-anginan”. Menulisnya “semau gue” atau “suka-suka gue”.
Sehari menulis, sehari tidak. Hari ini bisa ngebut menulis sepuluh halaman,
tapi melanjutkannya satu bulan kemudian. Ngebut lagi, ngadat lagi. Nanti
ujung-ujungnya tidak selesai. Alasannya sudah bosan. Ganti menulis cerita baru,
angin-anginan lagi. Ini penulis maunya apa? Kapan naskahnya mau selesai kalau
begitu?
Akan lebih baik kalau kita tetapkan
waktu khusus dan target khusus untuk menulis. Misalnya jam menulis setiap pukul
lima (sekadar info, waktu subuh adalah waktu di mana otak kita dalam keadaan paling
fresh) sampai jam tujuh pagi. Atau
kapan pun terserahlah. Yang penting tepati waktu ini. Lalu ciptakan target,
setidaknya sehari harus menulis dua atau tiga halaman. Sedikit sedikit tapi
rutin, jauh lebih baik daripada angin-anginan.
4. Tidak sabaran
Mau jadi penulis tapi tidak punya
kesabaran menyelesaikan naskah. Ya ampun, menulis itu kan bukan main sulap yang
begitu bilang sim salabim sambil
melambaikan tongkat langsung jadi. Harus sabar mengetikkan huruf demi huruf
menjadi kata, kata demi kata menjadi kalimat, kalimat demi kalimat menjadi
paragraf, paragraf demi paragraf menjadi halaman, halaman demi halaman menjadi
bab, sampai bab demi bab menjadi satu naskah utuh. Penulis yang tidak sabaran
baiknya alih profesi saja. Apalagi penulis yang tidak sabar menanti keputusan
naskah (yang ini tidak perlu dibahas panjang lebar, tanyakan saja pada
penerbitnya langsung. Apa yang dia rasakan saat menghadapi penulis grusa-grusu begini? Hehe...).
5. Tidak percaya diri
“Aku mau jadi penulis, tapi tulisanku jelek. Gimana, ya? Aku malu kalau
ada orang lain yang baca…” Terus maksudmu apa? Mau menulis sendiri dan dibaca
sendiri? Hei, ketahuilah, para penulis hebat dan terkenal itu dulunya juga
tidak langsung bagus. Tulisan mereka menjadi luar biasa setelah melalui proses
yang panjang. Jadi jangan mider. Percaya diri penting dalam hal apa pun,
termasuk dalam menulis.
6. Malas
Mau jadi penulis tapi malas membaca malas dan melihat berita. Kalau buka
facebook rajin, tapi kalau ada berita penting hanya dibaca judulnya lalu asal
komentar yang tidak “nyambung”. Ujung-ujungnya debat kusir tak berujung. Kalau
ada info lomba hanya dilihat sekilas dan menanyakan sesuatu yang sudah
dijelaskan, membuat jengkel panitia. Bagaimana mau jadi penulis kalau soal
informasi saja malas mencari?
7. Terlalu banyak berpikir
Coba bayangkan. Sebuah bus yang
dipadati oleh penumpang, lalu saat bus itu berhenti, semua orang berebut turun
dan tidak ada yang mau mengalah. Apa yang terjadi? Mereka akan sulit keluar.
Seperti itulah analoginya orang yang terlalu banyak berpikir. Terlalu banyak
berpikir malah membuat otak semakin kacau dan tidak bisa menulis apa-apa. Lebih
baik jika menulis dalam keadaan rileks. Ide yang tadinya bersembunyi akan
bermunculan satu per satu dengan lancar. Kuncinya, menulislah dengan gembira
tanpa perasaan terbebani atau tertekan.
8. Mental kerupuk
Baru dikritik sedikit sudah putus asa. Kalah lomba menulis sudah tidak
mau ikut lomba lagi. Baru ditolak penerbit satu kali sudah menyerah tidak mau
menulis lagi. Tidak mendapat dukungan… (eh, banyak lho para penulis yang
cita-citanya dulu ditentang oleh orangtua). Padahal kalau mau jadi penulis itu
harus punya mental baja, harus tahan banting. Dikritik, ditolak, disepelekan,
sudah jadi makanan sehari-hari. Yang mentalnya seperti kerupuk akan tersingkir.
Sumber gambar: PIXABAY
Sumber gambar: PIXABAY

Komentar
Posting Komentar