Langsung ke konten utama

Membaca, Kuliahnya Para Penulis



Buku jendela dunia.
Buku jendela illmu.
Buku jendela menulis, buku kuliahnya para penulis.



Tentu saja semua orang harus menjadi pembaca yang baik sebelum menjadi penulis yang baik. Kemampuan mengolah kata-kata, kemampuan menganalisis suatu masalah, sampai mengetahui hal-hal baru didapat dari membaca. Membaca apa saja. Membaca berita, buku pelajaran, kamus, ensiklopedia, buku sastra, koran, novel, puisi, cerpen, sampai membaca ramalan. 
Eh, serius! Membaca ramalan! Maksudnya bukan berarti menyuruh kalian memercayai ramalan! Bukan itu! Tapi tidak ada salahnya kita tahu bahwa ilmu ramal adalah ilmu yang sudah sangat tua. Setiap negara, setiap suku, memiliki metode ramalan yang berbeda-beda. Kita bisa menggunakan pengethuan ramalan ini untuk menulis cerita misteri, dongeng, atau fantasi, kan?
Mau jadi penulis tapi malas membaca? Apa kata dunia! Penulis yang tidak suka membaca tulisannya akan kering, dangkal dan membosankan. Sama saja seperti atlet yang tidak mau mengonsumsi makanan bergizi untuk menjaga kekuatan dan kesehatan tubuhnya. 
Pembaca mungkin bisa tidak menulis, tapi penulis tidak mungkin bisa tanpa membaca! Percayalah!
Misalnya saja kamu diminta menulis tentang negara Turki atau novel yang setting-nya di Turki. Kamu tidak mungkin bisa mendiskripsikan atau memberi penjelasan tentang Turki tanpa sebelumnya membaca buku-buku yang berhubungan dengan Turki. Kecuali kamu memang sudah pernah berkunjung ke sana, sih!
Membaca adalah kuliahnya para penulis. Kuliah otodidak. Kita memandu diri kita sendiri mencari bacaan yang tepat sesuai dengan kebutuhan, memilah-milah informasi dari internet dan mencari tahu sendiri mana yang fakta dan mana yang hoax. Jangan berkecil hati bagi para penulis yang tidak sempat mengenyam bangku perguruan tinggi. Ketika kamu mengirimkan naskah ke penerbit. Mereka tidak menanyakan: apa pendidikanmu?, tapi: seberapa bagus tulisanmu? MEMBACALAH! (Memang ada penerbit yang mempertimbangkan pendidikan penulis, namun tetap kualitas tulisanlah yang paling utama). Jadikan buku sebagai tempat kuliahmu, sebagai dosenmu, sebagai teman diskusimu! Karena ilmu tidak terbatas pada ijazah dan nilai.
Kalau masih tidak percaya, tengoklah Chairil Anwar dan Buya Hamka!  

Sumber gambar: PIXABAY

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kan, Masih Anak-Anak!

Anak-anak selalu digambarkan sebagai sosok yang aktif, lucu, menggemaskan, manja, dan nakal. Kata terakhir inilah yang mengendap begitu lama dalam pikiran saya, sehingga membuat saya tergelitik untuk membuat tulisan ini. Sampai sejauh mana kenakalan anak-anak masih bisa ditolerir, dianggap wajar? Ada seorang ibu yang berkunjung ke rumah temannya sambil membawa anak kecil. Anaknya sangat aktif, tidak bisa diam. Berlarian ke sana kemari sambil memegang barang-barang milik tuan rumah. Apa saja dipegang. Gelas minuman, toples makanan, helm, hiasan pajangan, keramik ... Sepasang mata sang tuan rumah--yang juga perempuan--tak lepas mengawasi sambil berusaha mendengarkan apa yang dibicarakan tamunya. Sesekali tersenyum. Namun hatinya berbisik waswas, Aduh, nanti kalau pecah bagaimana, ya? Sementara ibu tamu tetap duduk manis di sebelah tuab rumah, mengobrol dengan serunya. Hanya sesekali berseru, "Adek, jangan! Ayo kembalikan! Jangan ke sana-sana, tidak boleh!" ...

Pinjam Bukunya, Dong!

"Pinjam bukunya, dong!" Bagaimana reaksi teman-teman jika ada yang mengungkapkan kalimat itu? Meminjamkan buku dengan senang hati? Meminjamkan buku dengan waswas dan kasih pesan atau peringatan macam-macam? Atau menolak sama sekali? Kalau saya, ambil pilihan ketiga: menolak sama sekali. Saya paling anti meminjamkan buku pada orang lain. Silakan bilang saya pelit, sok, gaya, atau apa pun. Tapi saya jadi pelit bukan tanpa alasan. Banyak pengalaman buruk saya berhubungan dengan pinjam-meminjam buku. Buku kembali dalam keadaan lecek/lusuh, rusak, dicoret-coret, bahkan tidak kembali. Dulu saya tidak terlalu peduli ketika buku yang dipinjam rusak atau tidak kembali. Tapi sekarang buku menjadi benda kesayangan yang setelah diadopsi saya rawat dan jaga baik-baik. Jadi jika sampai terjadi kerusakan atau kehilangan pada buku yang dipinjam, jangan salahkan jika saya jadi galak!  Buku saya yang rusak setelah dipinjam teman Foto di atas adalah contoh buku yang ...

Amplop Sumbangan, Sosial Atau Gengsi?

Peristiwa ini sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Waktu itu, di lingkungan tempat sekolah saya berada, salah seorang warganya meninggal dunia. Kegiatan belajar mengajar diakhiri lebih cepat dan guru-guru mengimbau agar kami, para siswa menyempatkan diri untuk melayat ke rumah duka walau sebentar. Saya dan teman sebangku sepakat akan melayat bersama. Kami membeli amplop putih kecil untuk memasukkan uang sumbangan.  Teman saya melihat sejumlah uang yang akan saya masukkan dan cepat-cepat mencegah. "Jangan segitu! Kebanyakan!" Kemudian teman saya menjelaskan bahwa biasanya jumlah uang yang diberikan untuk sumbangan orang meninggal tidak banyak. Kalau sumbangan untuk orang menikah, barulah orang akan memberi banyak. Saya kurang memerhatikan aturan "sumbang-menyumbang". Karena ketika saya masih SMA, tentu saja yang punya kewajiban "nyumbang" adalah orangtua. Namun saya tidak paham dengan tradisi pemberian sumbangan yan...