Bagaimana memulai menulis?
Jawabannya ya menulis!
Tapi memang ada hal-hal yang harus
dilakukan untuk membuat kita terbiasa menulis. Membuat menulis menjadi suatu
kebiasaan. Caranya? Simak!
1. Singkirkan semua godaan
Godaan yang bisa membuatmu berpaling
dari menulis. Internet, jalan-jalan, nonton, main ke rumah teman, camilan,
hp... Singkirkan semua itu! Cabut modem, matikan televisi, nonaktifkan hp,
tutup toples makanan, dan kalau ada teman yang mengajak pergi, katakan, “Maaf,
ya, aku lagi sibuk!” (Sibuknya sibuk betulan menulis lho, ya, bukan pura-pura!)
Mungkin langkah-langkah ini kelihatan terlalu ekstrem, tapi percayalah, penulis
artikel ini sudah mempraktekkannya sendiri. Ketika kuota habis dan tidak bisa
internetan, dompet kosong tak bisa pergi jalan-jalan, pulsa ludes tak bisa
telepon atau SMS, semua teman kesulitan mengambil hari libur, tak punya camilan
untuk dimakan, sampai televisi rusak, semua punya hikmah tersendiri. Hanya
Microsoft Word yang bisa berfungsi dan itu adalah suasana yang sangat mendukung
untuk menulis (mau tidak mau jadi rajin). Tentu kamu tidak usah berubah jadi miskin untuk rajin menulis.
Hanya perlu menyingkirkan semua godaan-godaan tadi.
2. Niat
Katakan dalam hati kalau aku niat menulis! Segala sesuatu kalau
sudah dilandasi dengan niat yang kuat biasanya akan berhasil. Soal ibadah,
salat, puasa, zakat, haji, semua dimulai dengan niat. Bersedekah juga
tergantung niatnya. Untuk menulis juga harus niat.
3. Doa
Doa itu penting, karena kita selalu
mengingat dan menyebut nama Tuhan di dalamnya. Coba katakan dengan jujur, siapa
yang sebelum menulis selalu berdoa lebih dulu? Ingat tidak saat sekolah,
sebelum pelajaran dimulai bapak/ibu guru selalu meminta kita berdoa, entah itu
bersuara atau pun di dalam hati? Mungkin tanpa sadar terkadang kita
menyepelekan rutinitas ini. Akibatnya, setelah tidak lagi bersekolah (lulus)
sebagian dari kita jarang atau bahkan tidak pernah berdoa lagi (sebagian lho, ya, bukan semua J).
Berdoa hanya pada saat salat atau ibadah lain, mau makan, mau tidur, ketika
akan melakukan perjalanan jauh, atau dalam situasi yang menakutkan. Berdoa
sebelum membuka laptop untuk memulai menulis juga tak kalah penting. Karena
dengan demikian Tuhan akan melindungi kita dari godaan setan yang terkutuk, eh,
salah... dari godaan menulis yang terkutuk. Yuk, biasakan berdoa sebelum
menulis!
4. Menulis
Tahap keempat yang harus dilakukan
hanyalah: MENULIS DARI AWAL SAMPAI AKHIR!
5. Puji diri sendiri
Ketika kamu berhasil menyelesaikan
satu cerpen, satu novel atau jenis tulisan apa pun—tidak peduli hasilnya baik
atau buruk—kamu perlu memuji diri sendiri. Eittss, tunggu dulu! Ini tidak
bermaksud narsis, ini berbeda dengan memuja diri sendiri. Kita sebagai manusia
pasti ingin dihargai. Namun penghargaan pertama harus datang dari sendiri (kalau kita
tidak bisa menghargai diri sendiri, bagaimana orang lain mau menghargai kita?).
Hargai diri sendiri dengan mengatakan dalam hati, “Kamu hebat bisa
menyelesaikan tulisan ini! Satu tulisan sudah berhasil kamu selesaikan, jadi
kamu pasti bisa menyelesaikan tulisan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya!
Ayo semangat! Semangat!” Nah, pujian pada diri sendiri sekaligus berfungsi
menyemangati diri sendiri, jadi kita tidak akan bergantung pada orang lain untuk
masalah “semangat menulis”. Tapi ingat, jangan berlebihan, jangan kebablasan!
Sumber gambar: PIXABAY
Sumber gambar: PIXABAY

Komentar
Posting Komentar