Langsung ke konten utama

Agama Bukan Barang Warisan



Saya merasa sedih, sedih sekali... ketika ada Saudara Muslim yang memiliki pemikiran bebas dan berkata, "Kita beragama itu hanya karena warisan dari orangtua!"

Saya tidak menampik jika sebagian besar dari kita beragama karena keturunan. Tapi bukan berarti itu membuat kita bisa mengecilkan nilai agama Islam, agama yang saya dan Saudara Muslim anut sejak lahir. Syukurilah itu sebagai anugerah dan nikmat yang diberikan Allah pada kita. Kita harus bersyukur karena lahir dalam lingkungan yang mendukung kita mempelajari ilmu agama lebih dalam.

Coba bandingkan dengan mereka yang lahir di keluarga non muslim, "mendapat warisan" agama selain Islam (bukan saya lho, ya, yang mengatakan agama adalah warisan). Kemudian mereka mendapat hidayah dan memutuskan menjadi mualaf. Tidak sedikit dari saudara-saudara kita ini yang harus berjuang keras agar bisa "kembali ke pangkuan Islam" dan menjalani hidup sebagai seorang muslim. Mungkin sekali dia harus menghadapi tentangan dan hambatan dari berbagai pihak. Saya katakan "kembali ke pangkuan Islam" karena sejatinya sebelum manusia lahir ke dunia, semua sudah diambil janjinya. Bahwa kita akan beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa. Harus diingat pula bahwa sejak awal Allah-lah yang menentukan kita terlahir di negara mana, di keluarga siapa, dan beragama apa. Bila sejak awal kita mendapati diri kita terlahir di dalam keluarga muslim itu juga bukan sekadar kebetulan, bukan soal "hanya warisan dari orangtua".

Menjadi muslim sejak lahir adalah sebuah bonus, kelebihan nikmat. Kita diberi kemudahan oleh Allah dilahirkan di lingkungan islami, tinggal menjalankan dan mengamalkan ajaran agama Islam. Menjaga agar nikmat iman Islam ini jangan sampai tercerabut oleh karena kebodohan kita sendiri yang tidak bisa mensyukuri. Na'udzubillah... Bukannya malah berkata dengan entengnya, "Kita beragama hanya karena warisan!" kemudian memperlakukan agama yang dianutnya sejak lahir seperti barang warisan. Ingat, Islam jauh, jauh... lebih berharga daripada semua itu. Karena kelak setelah mati Islam-lah yang akan menyelamatkan kita. Malulah pada Saudara Muslim yang mualaf, yang tidak terlahir dalam keluarga Islam, mendapat hidayah, lalu berusaha menjadi seorang muslim seutuhnya.
Jangan lagi katakan, "Kita beragama itu hanya karena warisan dari orangtua!" Tapi mari katakan dengan setulus hati, "Alhamdulillah saya Muslim!"

Sumber gambar: PIXABAY 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kan, Masih Anak-Anak!

Anak-anak selalu digambarkan sebagai sosok yang aktif, lucu, menggemaskan, manja, dan nakal. Kata terakhir inilah yang mengendap begitu lama dalam pikiran saya, sehingga membuat saya tergelitik untuk membuat tulisan ini. Sampai sejauh mana kenakalan anak-anak masih bisa ditolerir, dianggap wajar? Ada seorang ibu yang berkunjung ke rumah temannya sambil membawa anak kecil. Anaknya sangat aktif, tidak bisa diam. Berlarian ke sana kemari sambil memegang barang-barang milik tuan rumah. Apa saja dipegang. Gelas minuman, toples makanan, helm, hiasan pajangan, keramik ... Sepasang mata sang tuan rumah--yang juga perempuan--tak lepas mengawasi sambil berusaha mendengarkan apa yang dibicarakan tamunya. Sesekali tersenyum. Namun hatinya berbisik waswas, Aduh, nanti kalau pecah bagaimana, ya? Sementara ibu tamu tetap duduk manis di sebelah tuab rumah, mengobrol dengan serunya. Hanya sesekali berseru, "Adek, jangan! Ayo kembalikan! Jangan ke sana-sana, tidak boleh!" ...

Pinjam Bukunya, Dong!

"Pinjam bukunya, dong!" Bagaimana reaksi teman-teman jika ada yang mengungkapkan kalimat itu? Meminjamkan buku dengan senang hati? Meminjamkan buku dengan waswas dan kasih pesan atau peringatan macam-macam? Atau menolak sama sekali? Kalau saya, ambil pilihan ketiga: menolak sama sekali. Saya paling anti meminjamkan buku pada orang lain. Silakan bilang saya pelit, sok, gaya, atau apa pun. Tapi saya jadi pelit bukan tanpa alasan. Banyak pengalaman buruk saya berhubungan dengan pinjam-meminjam buku. Buku kembali dalam keadaan lecek/lusuh, rusak, dicoret-coret, bahkan tidak kembali. Dulu saya tidak terlalu peduli ketika buku yang dipinjam rusak atau tidak kembali. Tapi sekarang buku menjadi benda kesayangan yang setelah diadopsi saya rawat dan jaga baik-baik. Jadi jika sampai terjadi kerusakan atau kehilangan pada buku yang dipinjam, jangan salahkan jika saya jadi galak!  Buku saya yang rusak setelah dipinjam teman Foto di atas adalah contoh buku yang ...

Amplop Sumbangan, Sosial Atau Gengsi?

Peristiwa ini sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Waktu itu, di lingkungan tempat sekolah saya berada, salah seorang warganya meninggal dunia. Kegiatan belajar mengajar diakhiri lebih cepat dan guru-guru mengimbau agar kami, para siswa menyempatkan diri untuk melayat ke rumah duka walau sebentar. Saya dan teman sebangku sepakat akan melayat bersama. Kami membeli amplop putih kecil untuk memasukkan uang sumbangan.  Teman saya melihat sejumlah uang yang akan saya masukkan dan cepat-cepat mencegah. "Jangan segitu! Kebanyakan!" Kemudian teman saya menjelaskan bahwa biasanya jumlah uang yang diberikan untuk sumbangan orang meninggal tidak banyak. Kalau sumbangan untuk orang menikah, barulah orang akan memberi banyak. Saya kurang memerhatikan aturan "sumbang-menyumbang". Karena ketika saya masih SMA, tentu saja yang punya kewajiban "nyumbang" adalah orangtua. Namun saya tidak paham dengan tradisi pemberian sumbangan yan...