Saya merasa sedih, sedih
sekali... ketika ada Saudara Muslim yang memiliki pemikiran bebas dan berkata,
"Kita beragama itu hanya karena warisan dari orangtua!"
Saya tidak menampik jika sebagian besar dari kita beragama karena
keturunan. Tapi bukan berarti itu membuat kita bisa mengecilkan nilai agama
Islam, agama yang saya dan Saudara Muslim anut sejak lahir. Syukurilah itu
sebagai anugerah dan nikmat yang diberikan Allah pada kita. Kita harus
bersyukur karena lahir dalam lingkungan yang mendukung kita mempelajari ilmu
agama lebih dalam.
Coba bandingkan dengan mereka yang lahir di keluarga non muslim, "mendapat warisan" agama selain Islam (bukan saya lho, ya, yang mengatakan agama adalah warisan). Kemudian mereka mendapat hidayah dan memutuskan menjadi mualaf. Tidak sedikit dari saudara-saudara kita ini yang harus berjuang keras agar bisa "kembali ke pangkuan Islam" dan menjalani hidup sebagai seorang muslim. Mungkin sekali dia harus menghadapi tentangan dan hambatan dari berbagai pihak. Saya katakan "kembali ke pangkuan Islam" karena sejatinya sebelum manusia lahir ke dunia, semua sudah diambil janjinya. Bahwa kita akan beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa. Harus diingat pula bahwa sejak awal Allah-lah yang menentukan kita terlahir di negara mana, di keluarga siapa, dan beragama apa. Bila sejak awal kita mendapati diri kita terlahir di dalam keluarga muslim itu juga bukan sekadar kebetulan, bukan soal "hanya warisan dari orangtua".
Menjadi muslim sejak lahir adalah sebuah bonus, kelebihan nikmat. Kita diberi kemudahan oleh Allah dilahirkan di lingkungan islami, tinggal menjalankan dan mengamalkan ajaran agama Islam. Menjaga agar nikmat iman Islam ini jangan sampai tercerabut oleh karena kebodohan kita sendiri yang tidak bisa mensyukuri. Na'udzubillah... Bukannya malah berkata dengan entengnya, "Kita beragama hanya karena warisan!" kemudian memperlakukan agama yang dianutnya sejak lahir seperti barang warisan. Ingat, Islam jauh, jauh... lebih berharga daripada semua itu. Karena kelak setelah mati Islam-lah yang akan menyelamatkan kita. Malulah pada Saudara Muslim yang mualaf, yang tidak terlahir dalam keluarga Islam, mendapat hidayah, lalu berusaha menjadi seorang muslim seutuhnya.
Coba bandingkan dengan mereka yang lahir di keluarga non muslim, "mendapat warisan" agama selain Islam (bukan saya lho, ya, yang mengatakan agama adalah warisan). Kemudian mereka mendapat hidayah dan memutuskan menjadi mualaf. Tidak sedikit dari saudara-saudara kita ini yang harus berjuang keras agar bisa "kembali ke pangkuan Islam" dan menjalani hidup sebagai seorang muslim. Mungkin sekali dia harus menghadapi tentangan dan hambatan dari berbagai pihak. Saya katakan "kembali ke pangkuan Islam" karena sejatinya sebelum manusia lahir ke dunia, semua sudah diambil janjinya. Bahwa kita akan beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa. Harus diingat pula bahwa sejak awal Allah-lah yang menentukan kita terlahir di negara mana, di keluarga siapa, dan beragama apa. Bila sejak awal kita mendapati diri kita terlahir di dalam keluarga muslim itu juga bukan sekadar kebetulan, bukan soal "hanya warisan dari orangtua".
Menjadi muslim sejak lahir adalah sebuah bonus, kelebihan nikmat. Kita diberi kemudahan oleh Allah dilahirkan di lingkungan islami, tinggal menjalankan dan mengamalkan ajaran agama Islam. Menjaga agar nikmat iman Islam ini jangan sampai tercerabut oleh karena kebodohan kita sendiri yang tidak bisa mensyukuri. Na'udzubillah... Bukannya malah berkata dengan entengnya, "Kita beragama hanya karena warisan!" kemudian memperlakukan agama yang dianutnya sejak lahir seperti barang warisan. Ingat, Islam jauh, jauh... lebih berharga daripada semua itu. Karena kelak setelah mati Islam-lah yang akan menyelamatkan kita. Malulah pada Saudara Muslim yang mualaf, yang tidak terlahir dalam keluarga Islam, mendapat hidayah, lalu berusaha menjadi seorang muslim seutuhnya.
Jangan lagi katakan, "Kita beragama itu hanya karena warisan dari
orangtua!" Tapi mari katakan dengan setulus hati, "Alhamdulillah
saya Muslim!"
Sumber gambar: PIXABAY
Sumber gambar: PIXABAY

Komentar
Posting Komentar