Langsung ke konten utama

Lancar Bahasa Korea Untuk Pemula oleh Yunita Setiawati Carsim




Saya dan sahabat saya memiliki sebuah janji untuk menerbitkan buku bersama. Dan doa itu telah dijawab Tuhan pada tahun 2016 ini. Bila saya menerbitkan buku pelajaran bahasa Indonesia, maka dia menerbitkan buku pelajaran bahasa Korea.
Sahabatku, biarlah terbitnya kedua buku ini menjadi pengikat persahabatan kita...





Judul buku: Lancar Bahasa Korea Untuk Pemula
Penulis: Yunita Setiawati Carsim
Penerbit: Pusat Kajian Bahasa
Cetakan: I, 2016
Tebal: 114 halaman
Ukuran: 14 cm × 20 cm
ISBN: 978-602-288-320-3
Harga: 37.500

Bersamaan dengan booming-nya drama, lagu Korea, dan bintang Korea, bahasa Korea pun terkena imbasnya. Sekarang ini banyak sekali orang yang belajar bahasa Korea. Tidak hanya melalui lembaga pendidikan formal, tetapi juga belajar secara otodidak. Sulit? Tidak juga! Apalagi jika kita sudah lebih dulu menaruh minat. Huruf Korea yang disebut Hangeul termasuk mudah dipelajari.
Kalau tidak percaya, lihat saja di buku Lancar Bahasa Korea Untuk Pemula ini. Bahasa Korea dijelaskan dari yang paling dasar, pengenalan huruf dan penyebutan angka, sampai pada pola kalimat. Buku ini sangat cocok bagi setiap orang yang ingin belajar bahaa Korea secara mandiri. Penjelasannya sangat mudah dipahami. Apalagi di bagian akhir kita diajak bernyanyi bersama melalui lagu 곰세마리 (Gom Se Mari—Tiga Ekor Beruang). Yang pernah menonton drama Korea Full House, pasti sudah tidak asing dengan lagu tersebut. Mari kita belajar bahasa Korea dengan gembira!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kan, Masih Anak-Anak!

Anak-anak selalu digambarkan sebagai sosok yang aktif, lucu, menggemaskan, manja, dan nakal. Kata terakhir inilah yang mengendap begitu lama dalam pikiran saya, sehingga membuat saya tergelitik untuk membuat tulisan ini. Sampai sejauh mana kenakalan anak-anak masih bisa ditolerir, dianggap wajar? Ada seorang ibu yang berkunjung ke rumah temannya sambil membawa anak kecil. Anaknya sangat aktif, tidak bisa diam. Berlarian ke sana kemari sambil memegang barang-barang milik tuan rumah. Apa saja dipegang. Gelas minuman, toples makanan, helm, hiasan pajangan, keramik ... Sepasang mata sang tuan rumah--yang juga perempuan--tak lepas mengawasi sambil berusaha mendengarkan apa yang dibicarakan tamunya. Sesekali tersenyum. Namun hatinya berbisik waswas, Aduh, nanti kalau pecah bagaimana, ya? Sementara ibu tamu tetap duduk manis di sebelah tuab rumah, mengobrol dengan serunya. Hanya sesekali berseru, "Adek, jangan! Ayo kembalikan! Jangan ke sana-sana, tidak boleh!" ...

Pinjam Bukunya, Dong!

"Pinjam bukunya, dong!" Bagaimana reaksi teman-teman jika ada yang mengungkapkan kalimat itu? Meminjamkan buku dengan senang hati? Meminjamkan buku dengan waswas dan kasih pesan atau peringatan macam-macam? Atau menolak sama sekali? Kalau saya, ambil pilihan ketiga: menolak sama sekali. Saya paling anti meminjamkan buku pada orang lain. Silakan bilang saya pelit, sok, gaya, atau apa pun. Tapi saya jadi pelit bukan tanpa alasan. Banyak pengalaman buruk saya berhubungan dengan pinjam-meminjam buku. Buku kembali dalam keadaan lecek/lusuh, rusak, dicoret-coret, bahkan tidak kembali. Dulu saya tidak terlalu peduli ketika buku yang dipinjam rusak atau tidak kembali. Tapi sekarang buku menjadi benda kesayangan yang setelah diadopsi saya rawat dan jaga baik-baik. Jadi jika sampai terjadi kerusakan atau kehilangan pada buku yang dipinjam, jangan salahkan jika saya jadi galak!  Buku saya yang rusak setelah dipinjam teman Foto di atas adalah contoh buku yang ...

Amplop Sumbangan, Sosial Atau Gengsi?

Peristiwa ini sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Waktu itu, di lingkungan tempat sekolah saya berada, salah seorang warganya meninggal dunia. Kegiatan belajar mengajar diakhiri lebih cepat dan guru-guru mengimbau agar kami, para siswa menyempatkan diri untuk melayat ke rumah duka walau sebentar. Saya dan teman sebangku sepakat akan melayat bersama. Kami membeli amplop putih kecil untuk memasukkan uang sumbangan.  Teman saya melihat sejumlah uang yang akan saya masukkan dan cepat-cepat mencegah. "Jangan segitu! Kebanyakan!" Kemudian teman saya menjelaskan bahwa biasanya jumlah uang yang diberikan untuk sumbangan orang meninggal tidak banyak. Kalau sumbangan untuk orang menikah, barulah orang akan memberi banyak. Saya kurang memerhatikan aturan "sumbang-menyumbang". Karena ketika saya masih SMA, tentu saja yang punya kewajiban "nyumbang" adalah orangtua. Namun saya tidak paham dengan tradisi pemberian sumbangan yan...