Langsung ke konten utama

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Karya Lianawati W.S.



Biasanya, kabar paling menggembirakan datang dari siapa, sih? Dari pacar? Mungkin ya, bagi sebagian orang. Tapi bagi saya, kabar menggembirakan adalah dari penerbit! Menggembirakan level 1: kabar bahwa naskah di ACC, menggembirakan level 2: kabar bahwa honor sudah ditransfer (hehe!), menggembirakan level 3: kabar bahwa buku sudah terbit.
Hari Sabtu tanggal 19 November 2016, saya dihubungi oleh penerbit yang mengabarkan bahwa buku saya sudah diterbitkan, dan saya dipersilakan datang ke kantor penerbit untuk mengambil buku gratis yang menjadi hak penulis. Wah! Sayangnya kebahagiaan saya harus tertunda. Karena kesibukan, saya baru bisa mengambil buku tersebut seminggu kemudian pada tanggal 26 November.
Penasaran dengan buku ketiga saya? Yuk intip!





Judul buku: Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI)
Penulis: Lianawati W.S.
Penerbit: Pusat Kajian Bahasa
Cetakan: I, 2016
Tebal: 224 halaman
Ukuran: 15 cm × 23 cm
ISBN: 978-602-74831-4-9
Harga: 43.500

Bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu rakyat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku. Sangat miris rasanya ketika melihat para generasi muda sekarang lebih lancar menggunakan bahasa asing daripada bahasa negeri sendiri. Adapun yang tak kalah menyedihkan adalah ketika pelajaran bahasa Indonesia dianggap tidak lebih penting daripada pelajaran lain oleh murid atau orangtua.
Tidak ada larangan untuk belajar bahasa asing, juga tidak ada larangan untuk menggunakan bahasa gaul dan alay. Namun kita jangan sampai melupakan betapa pentingnya menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan benar, sebab bahasa Indonesia baku yang menurut anggapan sebagian orang membosankan selalu diperlukan di berbagai situasi. Karena itulah buku pedoman EBI ini hadir di tengah-tengah Anda. Buku ini akan menuntun Anda memahami bahasa Indonesia dengan lebih mendalam.
Buku ini juga dilengkapi dengan Pedoman Umum Pembentukan Istilah, Tanda dan Lambang, Pedoman Penyerapan Istilah, Penulisan “Di-“ dan “Ke-“ Sebagai Awalan dan Kata Depan, Kosakata yang Sering Salah Digunakan, Kosakata yang Sering Salah Dieja, dan lain-lain.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kan, Masih Anak-Anak!

Anak-anak selalu digambarkan sebagai sosok yang aktif, lucu, menggemaskan, manja, dan nakal. Kata terakhir inilah yang mengendap begitu lama dalam pikiran saya, sehingga membuat saya tergelitik untuk membuat tulisan ini. Sampai sejauh mana kenakalan anak-anak masih bisa ditolerir, dianggap wajar? Ada seorang ibu yang berkunjung ke rumah temannya sambil membawa anak kecil. Anaknya sangat aktif, tidak bisa diam. Berlarian ke sana kemari sambil memegang barang-barang milik tuan rumah. Apa saja dipegang. Gelas minuman, toples makanan, helm, hiasan pajangan, keramik ... Sepasang mata sang tuan rumah--yang juga perempuan--tak lepas mengawasi sambil berusaha mendengarkan apa yang dibicarakan tamunya. Sesekali tersenyum. Namun hatinya berbisik waswas, Aduh, nanti kalau pecah bagaimana, ya? Sementara ibu tamu tetap duduk manis di sebelah tuab rumah, mengobrol dengan serunya. Hanya sesekali berseru, "Adek, jangan! Ayo kembalikan! Jangan ke sana-sana, tidak boleh!" ...

Pinjam Bukunya, Dong!

"Pinjam bukunya, dong!" Bagaimana reaksi teman-teman jika ada yang mengungkapkan kalimat itu? Meminjamkan buku dengan senang hati? Meminjamkan buku dengan waswas dan kasih pesan atau peringatan macam-macam? Atau menolak sama sekali? Kalau saya, ambil pilihan ketiga: menolak sama sekali. Saya paling anti meminjamkan buku pada orang lain. Silakan bilang saya pelit, sok, gaya, atau apa pun. Tapi saya jadi pelit bukan tanpa alasan. Banyak pengalaman buruk saya berhubungan dengan pinjam-meminjam buku. Buku kembali dalam keadaan lecek/lusuh, rusak, dicoret-coret, bahkan tidak kembali. Dulu saya tidak terlalu peduli ketika buku yang dipinjam rusak atau tidak kembali. Tapi sekarang buku menjadi benda kesayangan yang setelah diadopsi saya rawat dan jaga baik-baik. Jadi jika sampai terjadi kerusakan atau kehilangan pada buku yang dipinjam, jangan salahkan jika saya jadi galak!  Buku saya yang rusak setelah dipinjam teman Foto di atas adalah contoh buku yang ...

Amplop Sumbangan, Sosial Atau Gengsi?

Peristiwa ini sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Waktu itu, di lingkungan tempat sekolah saya berada, salah seorang warganya meninggal dunia. Kegiatan belajar mengajar diakhiri lebih cepat dan guru-guru mengimbau agar kami, para siswa menyempatkan diri untuk melayat ke rumah duka walau sebentar. Saya dan teman sebangku sepakat akan melayat bersama. Kami membeli amplop putih kecil untuk memasukkan uang sumbangan.  Teman saya melihat sejumlah uang yang akan saya masukkan dan cepat-cepat mencegah. "Jangan segitu! Kebanyakan!" Kemudian teman saya menjelaskan bahwa biasanya jumlah uang yang diberikan untuk sumbangan orang meninggal tidak banyak. Kalau sumbangan untuk orang menikah, barulah orang akan memberi banyak. Saya kurang memerhatikan aturan "sumbang-menyumbang". Karena ketika saya masih SMA, tentu saja yang punya kewajiban "nyumbang" adalah orangtua. Namun saya tidak paham dengan tradisi pemberian sumbangan yan...