Langsung ke konten utama

ME AND MY PET (Kisah-Kisah Unik dengan Hewan Peliharaan)

Sekitar bulan November saya membaca informasi event menulis yang diadakan Penerbit DIVA Press di media sosial.

Dalam event itu ada beberapa kategori yang dilombakan.
1. Me and My Teacher
2. Me and My Patient
3. Me and My Holy City
4. Me and My Child at First Day School
5. Me and My Pet

Saya bukan guru, bukan dokter, belum pernah mengunjungi kota-kota suci di dunia, juga belum menjadi orangtua. Otomatis hanya satu peluang yang terbuka untuk saya, "Me and My Pet".
Saya berusaha mengingat-ingat pengalaman saya memelihara hewan, lalu menuangkannya dalam cerita dengan jumlah halaman yang sangat terbatas. Selesai menulis, saya merasa tidak puas karena beranggapan tulisan tersebut terlalu sederhana. Tapi apa boleh buat? Yang diminta adalah menuliskan kisah nyata, dan kisah nyata yang saya alami bersama hewan peliharaan memang biasa-biasa saja. Cepat-cepat saya kirimkan naskah asal-asalan itu tanpa berani berharap banyak.

Hari-hari akhir bulan Januari, penerbit memposting daftar naskah terpilih untuk kategori "Me and My Teacher". Saya lalu menanyakan kategori "Me and My Pet" yang ternyata pengumumannya sudah lebih dulu keluar. Saya buka link yang diberikan penerbit dan... Alhamdulillah, nama dan judul naskah saya ada di dalam daftar. Betapa senangnya saya.

Penantian hadiah diwarnai kekhawatiran karena nomor hp yang saya cantumkan pada naskah hangus beberapa hari sebelumnya. Saya bahkan sampai menelepon pihak penerbit, menanyakan apakah hadiah sudah dikirim atau belum. Jika belum, saya kan bisa memberi tahu nomor hp yang baru--agar pak pos/kurir mudah menemukan alamat saya. Tapi ternyata sudah dikirim. Hari itu hari Jumat, saya sudah pasrah apabila paket hadiah itu hilang (tidak sampai).

Saya menelepon seorang teman untuk mengalihkan perhatian. Belum lama kami bicara, pintu rumah diketuk. Ketika saya membukanya, seorang bapak berseragam oranye telah berdiri membawa bingkisan warna cokelat. Oh... alangkah leganya saya!
Selain hadiah event yang berupa paket buku dan kaus, ada juga satu eksemplar buku bukti terbit "Me and My Pet".

Di dalam "Me and My Pet" terdapat kisah-kisah mengharukan, menyedihkan, membahagiakan, dan lucu para peserta dengan hewan peliharaannya. Termasuk kisah saya.
Apa hewan peliharaan saya?
Ingin tahu?
Langsung saja ke toko buku terdekat dan dapatkan "Me and My Pet".

Buku ini akan membuat siapa pun yang membacanya akan lebih menghargai dan menyayangi hewan peliharaannya. Bagi yang belum memiliki hewan peliharaan, pasti jadi ingin memelihara hewan juga. Kita juga bisa belajar dari kisah-kisah dalam buku ini. Bagaimana memelihara kucing, kelinci, hamster, burung, anjing, dan lain-lain.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kan, Masih Anak-Anak!

Anak-anak selalu digambarkan sebagai sosok yang aktif, lucu, menggemaskan, manja, dan nakal. Kata terakhir inilah yang mengendap begitu lama dalam pikiran saya, sehingga membuat saya tergelitik untuk membuat tulisan ini. Sampai sejauh mana kenakalan anak-anak masih bisa ditolerir, dianggap wajar? Ada seorang ibu yang berkunjung ke rumah temannya sambil membawa anak kecil. Anaknya sangat aktif, tidak bisa diam. Berlarian ke sana kemari sambil memegang barang-barang milik tuan rumah. Apa saja dipegang. Gelas minuman, toples makanan, helm, hiasan pajangan, keramik ... Sepasang mata sang tuan rumah--yang juga perempuan--tak lepas mengawasi sambil berusaha mendengarkan apa yang dibicarakan tamunya. Sesekali tersenyum. Namun hatinya berbisik waswas, Aduh, nanti kalau pecah bagaimana, ya? Sementara ibu tamu tetap duduk manis di sebelah tuab rumah, mengobrol dengan serunya. Hanya sesekali berseru, "Adek, jangan! Ayo kembalikan! Jangan ke sana-sana, tidak boleh!" ...

Pinjam Bukunya, Dong!

"Pinjam bukunya, dong!" Bagaimana reaksi teman-teman jika ada yang mengungkapkan kalimat itu? Meminjamkan buku dengan senang hati? Meminjamkan buku dengan waswas dan kasih pesan atau peringatan macam-macam? Atau menolak sama sekali? Kalau saya, ambil pilihan ketiga: menolak sama sekali. Saya paling anti meminjamkan buku pada orang lain. Silakan bilang saya pelit, sok, gaya, atau apa pun. Tapi saya jadi pelit bukan tanpa alasan. Banyak pengalaman buruk saya berhubungan dengan pinjam-meminjam buku. Buku kembali dalam keadaan lecek/lusuh, rusak, dicoret-coret, bahkan tidak kembali. Dulu saya tidak terlalu peduli ketika buku yang dipinjam rusak atau tidak kembali. Tapi sekarang buku menjadi benda kesayangan yang setelah diadopsi saya rawat dan jaga baik-baik. Jadi jika sampai terjadi kerusakan atau kehilangan pada buku yang dipinjam, jangan salahkan jika saya jadi galak!  Buku saya yang rusak setelah dipinjam teman Foto di atas adalah contoh buku yang ...

Amplop Sumbangan, Sosial Atau Gengsi?

Peristiwa ini sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Waktu itu, di lingkungan tempat sekolah saya berada, salah seorang warganya meninggal dunia. Kegiatan belajar mengajar diakhiri lebih cepat dan guru-guru mengimbau agar kami, para siswa menyempatkan diri untuk melayat ke rumah duka walau sebentar. Saya dan teman sebangku sepakat akan melayat bersama. Kami membeli amplop putih kecil untuk memasukkan uang sumbangan.  Teman saya melihat sejumlah uang yang akan saya masukkan dan cepat-cepat mencegah. "Jangan segitu! Kebanyakan!" Kemudian teman saya menjelaskan bahwa biasanya jumlah uang yang diberikan untuk sumbangan orang meninggal tidak banyak. Kalau sumbangan untuk orang menikah, barulah orang akan memberi banyak. Saya kurang memerhatikan aturan "sumbang-menyumbang". Karena ketika saya masih SMA, tentu saja yang punya kewajiban "nyumbang" adalah orangtua. Namun saya tidak paham dengan tradisi pemberian sumbangan yan...