Langsung ke konten utama

Antologi Cerpen MANTU

Judul: MANTU
Penulis: Amiliabdi, Khi Khi Kiara, Liana Safitri, Lusi Anda Sudjana, Mahfrizha Kifani, Meezaa, Mufa Rizal, Rie Kusuma, Riskaninda Maharani, Riswandi, Rosi Ochiemuh, Roza Damayanti, Sabrina Lasama, Sam Edy, ShytUrtle, Siti Nurjanah Azalah, Widya
Penerbit: LovRinz Publishing
Harga: Rp60.000


Antologi cerpen "Mantu" adalah antologi cerpen pertama saya dan antologi pertama bersama teman-teman facebook. Segala yang pertama selalu mengesankan, begitu pula antologi ini.
Berawal dari pengumuman event menulis cerpen bertema TRUE LOVE untuk memperingati hari jadi Penerbit LovRinz yang ketiga.

Seingat saya, sejak saya SMA dulu, banyak peristiwa manis yang saya alami di bulan September. Tahun 2017, September juga mengantarkan saya pada gerbang kelahiran antologi cerpen "Mantu".
Saya menulis dalam keragu-raguan, mengirimkan naskah dengan terburu-buru, berlanjut dengan kelegaan setelah berbulan kemudian naskah dinyatakan lolos. Penantian berlanjut lebih panjang, menunggu buku terbit dan sampai ke tangan saya. 

Di Jumat siang yang panas dan cerah ini akhirnya saya menuntaskan pencarian tentang arti cinta sejati bersama para penulis "Mantu".

Lalu, seperti apakah gambaran cinta sejati menurut mereka?

Amiliabdi menguak kegelisahan melalui "Mantu", Khi Khi Kiara dengan kisah cinta rumit dengan "Antara Nai dan Rai", Riskaninda Maharani dalam "Bayangmu Pesonamu", Rosi Ochiemuh pada "Surya Untuk Adinda", ShyrUrtle melalui "Carnival I'm in Love" dan masih banyak lagi kisah menarik lainnya yang sangat memesona serta memikat hati.
Saya sendiri menyuguhkan kisah cinta sederhana dalam cerpen "Kudekap Harap Cinta dalam Pengap".
 
Bila Anda ingin melihat seperti apa cinta sejati itu, antologi ini adalah jawabannya.
Dapatkan di LovRinz Publishing!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kan, Masih Anak-Anak!

Anak-anak selalu digambarkan sebagai sosok yang aktif, lucu, menggemaskan, manja, dan nakal. Kata terakhir inilah yang mengendap begitu lama dalam pikiran saya, sehingga membuat saya tergelitik untuk membuat tulisan ini. Sampai sejauh mana kenakalan anak-anak masih bisa ditolerir, dianggap wajar? Ada seorang ibu yang berkunjung ke rumah temannya sambil membawa anak kecil. Anaknya sangat aktif, tidak bisa diam. Berlarian ke sana kemari sambil memegang barang-barang milik tuan rumah. Apa saja dipegang. Gelas minuman, toples makanan, helm, hiasan pajangan, keramik ... Sepasang mata sang tuan rumah--yang juga perempuan--tak lepas mengawasi sambil berusaha mendengarkan apa yang dibicarakan tamunya. Sesekali tersenyum. Namun hatinya berbisik waswas, Aduh, nanti kalau pecah bagaimana, ya? Sementara ibu tamu tetap duduk manis di sebelah tuab rumah, mengobrol dengan serunya. Hanya sesekali berseru, "Adek, jangan! Ayo kembalikan! Jangan ke sana-sana, tidak boleh!" ...

Di Rumah Saja, Baca Buku SESUATU YANG KAMI SEBUT RUMAH

SESUATU YANG KAMI SEBUT RUMAH Penulis: Sri Bandiyah | Rini Dwi | Liana Safitri | Rizki Fujiyanti | Fitriani Umar | Sri Widyowati Kinasih | Deasy Hana | Silvia Destriani | Ana | Zubaidah | Sekar Rahayu | Ikawati Iskandar | Siti Nurun Na'imah | Artie Puspita | Wahyu Hakimah | Asma Ridha | Iffa Hanifah | Winda Damayanti Rengganis | Nurul Hidayati | Farah Fatihah | Nurhayati | Muhammad Ade Gunawan | Irman Rahman Mulya Penerbit: JWriting Soul Publishing Tebal: 240 halaman Cetakan: Pertama, Maret 2020 ISBN: 978-623-7788-34-8 Nubar (nulis bareng) 6 yang diadakan oleh Penerbit JWriting Soul Publishing mengambil tema "Rumah". Yang entah kenapa membuat hati saya tergugah dan ingin mengikutinya. Sejak mencari ide saya bimbang antara menulis cerita yang diangkat dari kisah nyata atau fiksi. Akhirnya saya memilih menulis cerita fiksi. Saya tak menemui kesulitan yang berarti selama proses penulisan hingga naskah dikirim. Dilanjutkan dengan pemilihan cover yang seru dan mem...

Pinjam Bukunya, Dong!

"Pinjam bukunya, dong!" Bagaimana reaksi teman-teman jika ada yang mengungkapkan kalimat itu? Meminjamkan buku dengan senang hati? Meminjamkan buku dengan waswas dan kasih pesan atau peringatan macam-macam? Atau menolak sama sekali? Kalau saya, ambil pilihan ketiga: menolak sama sekali. Saya paling anti meminjamkan buku pada orang lain. Silakan bilang saya pelit, sok, gaya, atau apa pun. Tapi saya jadi pelit bukan tanpa alasan. Banyak pengalaman buruk saya berhubungan dengan pinjam-meminjam buku. Buku kembali dalam keadaan lecek/lusuh, rusak, dicoret-coret, bahkan tidak kembali. Dulu saya tidak terlalu peduli ketika buku yang dipinjam rusak atau tidak kembali. Tapi sekarang buku menjadi benda kesayangan yang setelah diadopsi saya rawat dan jaga baik-baik. Jadi jika sampai terjadi kerusakan atau kehilangan pada buku yang dipinjam, jangan salahkan jika saya jadi galak!  Buku saya yang rusak setelah dipinjam teman Foto di atas adalah contoh buku yang ...