Langsung ke konten utama

Menyelami Dunia Radio Melalui MY RADIO MY LIFE

Judul: My Radio My Life
Penulis: Rudy Hartono
Penerbit: LovRinz Publishing
Tebal: 276 halaman, 14×20 cm
Cetakan: Pertama, Juli 2018
ISBN: 978-602-5864-89-6
Harga: Rp65.000,00


Siapa yang sampai sekarang masih suka mendengarkan radio? Jika ada, tak perlu malu mengakuinya.
Buku My Radio My Life ini membuka mata kita bahwa ternyata masih banyak orang yang suka mendengarkan radio. Yah... meskipun tentu saja jumlahnya tidak bisa dibandingkan dengan pengguna internet.

Rudy Hartono telah puluhan tahun menekuni hobi mendengarkan radio dalam dan luar negeri. Ia menguraikan pengalaman pada buku setebal 276 halaman dengan sangat menarik. Mata pembaca juga dimanja dengan foto-foto selama dirinya mengikuti berbagai kegiatan yang berhubungan dengan radio.

Di awal halaman kita diajak menengok masa kecil Rudy yang dihabiskannya di pedesaan Kalimantan. Kemudian usai menamatkan pendidikan di universitas, jatuh bangun merintis berbagai usaha.

Inti dari buku ini--tentang hobi Rudy mendengarkan radio--dijabarkan secara detail. Bagaimana awal dirinya menemukan siaran radio-radio luar negeri, memulai korespondensi dengan sarana serba terbatas, betapa senangnya ia ketika menerima balasan surat dan suvenir dari stasiun radio, masuk menjadi anggota klub pendengar radio, mendirikan klub pendengar radio sendiri, sampai perjuangannya bertemu penyiar idola.

Tak kalah menarik adalah, dari kegemarannya mendengar radio, Rudy bisa berkeliling dunia mengunjungi negara asal radio-radio tersebut diudarakan.
Semakin penasaran? Baca saja My Radio My Life.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kan, Masih Anak-Anak!

Anak-anak selalu digambarkan sebagai sosok yang aktif, lucu, menggemaskan, manja, dan nakal. Kata terakhir inilah yang mengendap begitu lama dalam pikiran saya, sehingga membuat saya tergelitik untuk membuat tulisan ini. Sampai sejauh mana kenakalan anak-anak masih bisa ditolerir, dianggap wajar? Ada seorang ibu yang berkunjung ke rumah temannya sambil membawa anak kecil. Anaknya sangat aktif, tidak bisa diam. Berlarian ke sana kemari sambil memegang barang-barang milik tuan rumah. Apa saja dipegang. Gelas minuman, toples makanan, helm, hiasan pajangan, keramik ... Sepasang mata sang tuan rumah--yang juga perempuan--tak lepas mengawasi sambil berusaha mendengarkan apa yang dibicarakan tamunya. Sesekali tersenyum. Namun hatinya berbisik waswas, Aduh, nanti kalau pecah bagaimana, ya? Sementara ibu tamu tetap duduk manis di sebelah tuab rumah, mengobrol dengan serunya. Hanya sesekali berseru, "Adek, jangan! Ayo kembalikan! Jangan ke sana-sana, tidak boleh!" ...

Di Rumah Saja, Baca Buku SESUATU YANG KAMI SEBUT RUMAH

SESUATU YANG KAMI SEBUT RUMAH Penulis: Sri Bandiyah | Rini Dwi | Liana Safitri | Rizki Fujiyanti | Fitriani Umar | Sri Widyowati Kinasih | Deasy Hana | Silvia Destriani | Ana | Zubaidah | Sekar Rahayu | Ikawati Iskandar | Siti Nurun Na'imah | Artie Puspita | Wahyu Hakimah | Asma Ridha | Iffa Hanifah | Winda Damayanti Rengganis | Nurul Hidayati | Farah Fatihah | Nurhayati | Muhammad Ade Gunawan | Irman Rahman Mulya Penerbit: JWriting Soul Publishing Tebal: 240 halaman Cetakan: Pertama, Maret 2020 ISBN: 978-623-7788-34-8 Nubar (nulis bareng) 6 yang diadakan oleh Penerbit JWriting Soul Publishing mengambil tema "Rumah". Yang entah kenapa membuat hati saya tergugah dan ingin mengikutinya. Sejak mencari ide saya bimbang antara menulis cerita yang diangkat dari kisah nyata atau fiksi. Akhirnya saya memilih menulis cerita fiksi. Saya tak menemui kesulitan yang berarti selama proses penulisan hingga naskah dikirim. Dilanjutkan dengan pemilihan cover yang seru dan mem...

Pinjam Bukunya, Dong!

"Pinjam bukunya, dong!" Bagaimana reaksi teman-teman jika ada yang mengungkapkan kalimat itu? Meminjamkan buku dengan senang hati? Meminjamkan buku dengan waswas dan kasih pesan atau peringatan macam-macam? Atau menolak sama sekali? Kalau saya, ambil pilihan ketiga: menolak sama sekali. Saya paling anti meminjamkan buku pada orang lain. Silakan bilang saya pelit, sok, gaya, atau apa pun. Tapi saya jadi pelit bukan tanpa alasan. Banyak pengalaman buruk saya berhubungan dengan pinjam-meminjam buku. Buku kembali dalam keadaan lecek/lusuh, rusak, dicoret-coret, bahkan tidak kembali. Dulu saya tidak terlalu peduli ketika buku yang dipinjam rusak atau tidak kembali. Tapi sekarang buku menjadi benda kesayangan yang setelah diadopsi saya rawat dan jaga baik-baik. Jadi jika sampai terjadi kerusakan atau kehilangan pada buku yang dipinjam, jangan salahkan jika saya jadi galak!  Buku saya yang rusak setelah dipinjam teman Foto di atas adalah contoh buku yang ...