Langsung ke konten utama

Buku Keren 2019

Di antara buku-buku yang saya baca di sepanjang tahun 2018, apa saja yang paling keren?


Berikut daftarnya. (Ingat ya, ini versi saya. Jadi orang lain boleh beda. Dan 2018 adalah tahun saya MEMBACA, bukan tahun TERBIT.) 


1. Sirkus Pohon - Andrea Hirata
2. Padang Bulan - Andrea Hirata
3. Cinta di Dalam Gelas - Andrea Hirata
4. Ayah - Andrea Hirata
5. Perahu Kertas - Dee Lestari
6. Aroma Karsa - Dee Lestari
7. Keluarga Cemara 1-2 - Arswendo Atmowiloto
8. 212 Cinta Menggerakkan Segala - Helvy Tiana Rosa
9. Salon Kepribadian: Jangan Jadi Muslimah Nyebelin - Asma Nadia
10. Sepatu Orang Lain - Mia Saadah
11. Chairil Anwar: Bagimu Negeri Menyediakan Api - Tempo
12. Indonesia Bercerita - (dkk.)
13. Dream If ... - Redy Kuswanto
14. Nona Teh dan Tuan Kopi Parak - Crowdstroia
15. Nona Teh dan Tuan Kopi Arkais - Crowdstroia
16. Oppa & I - Orizuka
17. Menemani Setiap Detik Rasa Sepi - Adrindia Ryandisza
18. Road to Your Heart - Arumi E.
19. Aku Tahu Kapan Kamu Mati - Arumi E.
20. Si Kembar di Sekolah yang Baru - Enid Blyton
21. Musim Panas di St. Claire - Enid Blyton
23. Petualangan di Laut Sunyi -Enid Blyton
24. Hujan Kemarin - Orina Fazrina
25. Lengking Kematian - Marlina Lin & Irna Putri Bahati

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kan, Masih Anak-Anak!

Anak-anak selalu digambarkan sebagai sosok yang aktif, lucu, menggemaskan, manja, dan nakal. Kata terakhir inilah yang mengendap begitu lama dalam pikiran saya, sehingga membuat saya tergelitik untuk membuat tulisan ini. Sampai sejauh mana kenakalan anak-anak masih bisa ditolerir, dianggap wajar? Ada seorang ibu yang berkunjung ke rumah temannya sambil membawa anak kecil. Anaknya sangat aktif, tidak bisa diam. Berlarian ke sana kemari sambil memegang barang-barang milik tuan rumah. Apa saja dipegang. Gelas minuman, toples makanan, helm, hiasan pajangan, keramik ... Sepasang mata sang tuan rumah--yang juga perempuan--tak lepas mengawasi sambil berusaha mendengarkan apa yang dibicarakan tamunya. Sesekali tersenyum. Namun hatinya berbisik waswas, Aduh, nanti kalau pecah bagaimana, ya? Sementara ibu tamu tetap duduk manis di sebelah tuab rumah, mengobrol dengan serunya. Hanya sesekali berseru, "Adek, jangan! Ayo kembalikan! Jangan ke sana-sana, tidak boleh!" ...

Pinjam Bukunya, Dong!

"Pinjam bukunya, dong!" Bagaimana reaksi teman-teman jika ada yang mengungkapkan kalimat itu? Meminjamkan buku dengan senang hati? Meminjamkan buku dengan waswas dan kasih pesan atau peringatan macam-macam? Atau menolak sama sekali? Kalau saya, ambil pilihan ketiga: menolak sama sekali. Saya paling anti meminjamkan buku pada orang lain. Silakan bilang saya pelit, sok, gaya, atau apa pun. Tapi saya jadi pelit bukan tanpa alasan. Banyak pengalaman buruk saya berhubungan dengan pinjam-meminjam buku. Buku kembali dalam keadaan lecek/lusuh, rusak, dicoret-coret, bahkan tidak kembali. Dulu saya tidak terlalu peduli ketika buku yang dipinjam rusak atau tidak kembali. Tapi sekarang buku menjadi benda kesayangan yang setelah diadopsi saya rawat dan jaga baik-baik. Jadi jika sampai terjadi kerusakan atau kehilangan pada buku yang dipinjam, jangan salahkan jika saya jadi galak!  Buku saya yang rusak setelah dipinjam teman Foto di atas adalah contoh buku yang ...

Amplop Sumbangan, Sosial Atau Gengsi?

Peristiwa ini sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Waktu itu, di lingkungan tempat sekolah saya berada, salah seorang warganya meninggal dunia. Kegiatan belajar mengajar diakhiri lebih cepat dan guru-guru mengimbau agar kami, para siswa menyempatkan diri untuk melayat ke rumah duka walau sebentar. Saya dan teman sebangku sepakat akan melayat bersama. Kami membeli amplop putih kecil untuk memasukkan uang sumbangan.  Teman saya melihat sejumlah uang yang akan saya masukkan dan cepat-cepat mencegah. "Jangan segitu! Kebanyakan!" Kemudian teman saya menjelaskan bahwa biasanya jumlah uang yang diberikan untuk sumbangan orang meninggal tidak banyak. Kalau sumbangan untuk orang menikah, barulah orang akan memberi banyak. Saya kurang memerhatikan aturan "sumbang-menyumbang". Karena ketika saya masih SMA, tentu saja yang punya kewajiban "nyumbang" adalah orangtua. Namun saya tidak paham dengan tradisi pemberian sumbangan yan...