Langsung ke konten utama

Yuk, Mengenal Sastra Indonesia Lebih Dalam Lewat MENYELAMI KEINDAHAN SASTRA INDONESIA



MENYELAMI KEINDAHAN SASTRA INDONESIA (Ebook)


Penulis Lianawati WS
Penerbit Bhuana Ilmu Populer Gramedia
Rilis 11 Juni 2019

Saya benar-benar tidak menyangka jika suatu saat bisa merilis ebook tentang sastra Indonesia. Terutama karena saya sendiri kurang begitu mengakrabi buku elektronik. Jadi, bagaimana cerita kelahiran anak saya yang spesial ini?

Saya harus mundur ke masa bertahun-tahun yang lalu ketika masih duduk di bangku SMP. Di sini sastra Indonesia mulai diperkenalkan lebih dalam. Ketika mendapat tugas menulis karya ilmiah, saya ingin menulis tentang novel-novel Indonesia. Namun karena terbentur ujian nasional, tugas itu tidak pernah selesai.

Akhir 2016, keinginan untuk menulis buku dasar-dasar sastra Indonesia muncul lagi. Saya mulai mengumpulkan buku-buku referensi--yang sudah tersedia di rak, maupun harus saya beli.

Setelah menyusun outline yang cukup memusingkan, saya mulai menghadapi laptop ditemani setumpuk buku-buku referensi. Saya memikirkan, bagaimana caranya membuat buku-buku yang memuat pengetahuan dasar tentang sastra Indonesia, tapi sekaligus cukup lengkap? Selain itu bisa dengan mudah dipelajari oleh berbagai kalangan?

Saya pikir akan bagus jika di dalam buku itu nanti juga disertakan contoh-contoh karya sastra. Jenis-jenis puisi (lama dan baru), serta jenis-jenis prosa (lama dan baru). Mencari contoh karya sastra untuk disertakan dalam buku ini lebih tidak mudah lagi. Saya benar-benar harus memilih mana contoh yang cocok.

Lega sekali ketika akhirnya draft "Menyelami Keindahan Sastra Indonesia" (MKSI) selesai ditulis. Dilanjutkan proses editing yang tak kalah "njelimet", rasanya sungguh melelahkan.

Tahun 2017 saya mulai menawarkan naskah MKSI ke beberapa penerbit. Tentu saja saya harus mengalami beberapa penolakan. Kabar baik itu kemudian datang dari Penerbit Bhuana Ilmu Populer (Kelompok Gramedia). Mbak Editor yang ramah, menawarkan untuk menerbitkan naskah MKSI dalam bentuk ebook.

Ebook? Saya tercenung agak lama. Meski telah memasuki era digital, terus terang saja saya kurang akrab dengan ebook. Namun dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya setuju. 

Penantian yang panjang kembali harus saya lalui. Pada awal 2019 Mbak Editor mengirimi saya email, mengabarkan bahwa naskah MKSI harus direvisi. Demi melahirkan karya yang terbaik, saya lakukan saja apa yang diminta Mbak Editor. Ada tiga kali revisi saya lakukan, yang cukup membuat jantung berdebar dan tangan berkeringat. Namun saya bersyukur, Mbak Editor adalah orang yang ramah dan sabar dalam membimbing saya.

Awal Agustus 2019, saya menemukan cover ebook "Menyelami Keindahan Sastra Indonesia" di google. 

Alhamdulillah ....

Bertambah lagi satu pengalaman berharga buat saya.

Yang menginginkan ebook "Menyelami Keindahan Sastra Indonesia" bisa didapatkan di Gramedia Digital.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kan, Masih Anak-Anak!

Anak-anak selalu digambarkan sebagai sosok yang aktif, lucu, menggemaskan, manja, dan nakal. Kata terakhir inilah yang mengendap begitu lama dalam pikiran saya, sehingga membuat saya tergelitik untuk membuat tulisan ini. Sampai sejauh mana kenakalan anak-anak masih bisa ditolerir, dianggap wajar? Ada seorang ibu yang berkunjung ke rumah temannya sambil membawa anak kecil. Anaknya sangat aktif, tidak bisa diam. Berlarian ke sana kemari sambil memegang barang-barang milik tuan rumah. Apa saja dipegang. Gelas minuman, toples makanan, helm, hiasan pajangan, keramik ... Sepasang mata sang tuan rumah--yang juga perempuan--tak lepas mengawasi sambil berusaha mendengarkan apa yang dibicarakan tamunya. Sesekali tersenyum. Namun hatinya berbisik waswas, Aduh, nanti kalau pecah bagaimana, ya? Sementara ibu tamu tetap duduk manis di sebelah tuab rumah, mengobrol dengan serunya. Hanya sesekali berseru, "Adek, jangan! Ayo kembalikan! Jangan ke sana-sana, tidak boleh!" ...

Pinjam Bukunya, Dong!

"Pinjam bukunya, dong!" Bagaimana reaksi teman-teman jika ada yang mengungkapkan kalimat itu? Meminjamkan buku dengan senang hati? Meminjamkan buku dengan waswas dan kasih pesan atau peringatan macam-macam? Atau menolak sama sekali? Kalau saya, ambil pilihan ketiga: menolak sama sekali. Saya paling anti meminjamkan buku pada orang lain. Silakan bilang saya pelit, sok, gaya, atau apa pun. Tapi saya jadi pelit bukan tanpa alasan. Banyak pengalaman buruk saya berhubungan dengan pinjam-meminjam buku. Buku kembali dalam keadaan lecek/lusuh, rusak, dicoret-coret, bahkan tidak kembali. Dulu saya tidak terlalu peduli ketika buku yang dipinjam rusak atau tidak kembali. Tapi sekarang buku menjadi benda kesayangan yang setelah diadopsi saya rawat dan jaga baik-baik. Jadi jika sampai terjadi kerusakan atau kehilangan pada buku yang dipinjam, jangan salahkan jika saya jadi galak!  Buku saya yang rusak setelah dipinjam teman Foto di atas adalah contoh buku yang ...

Amplop Sumbangan, Sosial Atau Gengsi?

Peristiwa ini sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Waktu itu, di lingkungan tempat sekolah saya berada, salah seorang warganya meninggal dunia. Kegiatan belajar mengajar diakhiri lebih cepat dan guru-guru mengimbau agar kami, para siswa menyempatkan diri untuk melayat ke rumah duka walau sebentar. Saya dan teman sebangku sepakat akan melayat bersama. Kami membeli amplop putih kecil untuk memasukkan uang sumbangan.  Teman saya melihat sejumlah uang yang akan saya masukkan dan cepat-cepat mencegah. "Jangan segitu! Kebanyakan!" Kemudian teman saya menjelaskan bahwa biasanya jumlah uang yang diberikan untuk sumbangan orang meninggal tidak banyak. Kalau sumbangan untuk orang menikah, barulah orang akan memberi banyak. Saya kurang memerhatikan aturan "sumbang-menyumbang". Karena ketika saya masih SMA, tentu saja yang punya kewajiban "nyumbang" adalah orangtua. Namun saya tidak paham dengan tradisi pemberian sumbangan yan...