Langsung ke konten utama

Let's (not) Falling in Love, Jatuh Cinta Tak Pernah Direncanakan

LET'S (NOT) FALLING IN LOVE
Penulis: Idha Febriana
Penerbit: Grasindo, 2019
Tebal: 176 halaman
ISBN: 978-602-05-2027-8



Pertanyaan bagi yang masih single, jika kalian akan menikah dua bulan mendatang, apa yang akan dipersiapkan? Selain siap mental, pasti banyak sekali persiapan secara "fisik" kan? Gaun pengantin, cincin pernikahan, tempat pesta, makanan .... Dan berbagai hal yang ribet sekali.

Seperti Naras, dia ini bukan mempelai wanita, tapi repot setengah mati karena bertugas mengurus pesta pernikahan kakak dan kakak iparnya. Rano sang kekasih yang diharapkan dapat membantu malah melempar tanggung jawab pada sepupunya, Samsir.

Samsir yang ditunjuk sebagai fotografer pernikahan Wanda dan Artha malah membuat Naras kesal karena dua kali terlambat pada janji pertemuan mereka di kafe. Samsir pun harus tertimpa sial akibat Naras yang pada suatu kesempatan tak dapat mengontrol kemarahannya.

Tapi kesialan yang dialami Samsir tanpa diduga menumbuhkan benih-benih cinta di hatinya dan Naras. Lalu, bagaimana dengan Rano?


Novel yang sangat menarik. Temanya tentang persiapan pernikahan dibahas dengan cukup detail, tak lupa ditambah bumbu-bumbu konflik yang membuat gregetan. Suka dengan jalinan hubungan antartokohnya.

Cuma yang agak mengganjal, cinta di antara Samsir dan Naras tumbuh terlalu cepat. Seperti buru-buru. Akan lebih bagus kalau masa PDKT keduanya diceritakan lebih detail. Kecuali kalau termasuk cinta pada pandangan pertama, ya, mungkin saja di awal mereka dibuat tertarik oleh kegantengan atau kecantikan satu sama lain.

Selain itu sebenarnya saya berharap trauma masa lalu Naras bisa digali lebih dalam. Bagaimana Naras bisa takut dengan suara-suara keras? Hubungan Naras dengan ayahnya? Wah, pasti akan menarik sekali!

Sukses untuk penulisnya dan ditunggu karya berikutnya!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kan, Masih Anak-Anak!

Anak-anak selalu digambarkan sebagai sosok yang aktif, lucu, menggemaskan, manja, dan nakal. Kata terakhir inilah yang mengendap begitu lama dalam pikiran saya, sehingga membuat saya tergelitik untuk membuat tulisan ini. Sampai sejauh mana kenakalan anak-anak masih bisa ditolerir, dianggap wajar? Ada seorang ibu yang berkunjung ke rumah temannya sambil membawa anak kecil. Anaknya sangat aktif, tidak bisa diam. Berlarian ke sana kemari sambil memegang barang-barang milik tuan rumah. Apa saja dipegang. Gelas minuman, toples makanan, helm, hiasan pajangan, keramik ... Sepasang mata sang tuan rumah--yang juga perempuan--tak lepas mengawasi sambil berusaha mendengarkan apa yang dibicarakan tamunya. Sesekali tersenyum. Namun hatinya berbisik waswas, Aduh, nanti kalau pecah bagaimana, ya? Sementara ibu tamu tetap duduk manis di sebelah tuab rumah, mengobrol dengan serunya. Hanya sesekali berseru, "Adek, jangan! Ayo kembalikan! Jangan ke sana-sana, tidak boleh!" ...

Di Rumah Saja, Baca Buku SESUATU YANG KAMI SEBUT RUMAH

SESUATU YANG KAMI SEBUT RUMAH Penulis: Sri Bandiyah | Rini Dwi | Liana Safitri | Rizki Fujiyanti | Fitriani Umar | Sri Widyowati Kinasih | Deasy Hana | Silvia Destriani | Ana | Zubaidah | Sekar Rahayu | Ikawati Iskandar | Siti Nurun Na'imah | Artie Puspita | Wahyu Hakimah | Asma Ridha | Iffa Hanifah | Winda Damayanti Rengganis | Nurul Hidayati | Farah Fatihah | Nurhayati | Muhammad Ade Gunawan | Irman Rahman Mulya Penerbit: JWriting Soul Publishing Tebal: 240 halaman Cetakan: Pertama, Maret 2020 ISBN: 978-623-7788-34-8 Nubar (nulis bareng) 6 yang diadakan oleh Penerbit JWriting Soul Publishing mengambil tema "Rumah". Yang entah kenapa membuat hati saya tergugah dan ingin mengikutinya. Sejak mencari ide saya bimbang antara menulis cerita yang diangkat dari kisah nyata atau fiksi. Akhirnya saya memilih menulis cerita fiksi. Saya tak menemui kesulitan yang berarti selama proses penulisan hingga naskah dikirim. Dilanjutkan dengan pemilihan cover yang seru dan mem...

Pinjam Bukunya, Dong!

"Pinjam bukunya, dong!" Bagaimana reaksi teman-teman jika ada yang mengungkapkan kalimat itu? Meminjamkan buku dengan senang hati? Meminjamkan buku dengan waswas dan kasih pesan atau peringatan macam-macam? Atau menolak sama sekali? Kalau saya, ambil pilihan ketiga: menolak sama sekali. Saya paling anti meminjamkan buku pada orang lain. Silakan bilang saya pelit, sok, gaya, atau apa pun. Tapi saya jadi pelit bukan tanpa alasan. Banyak pengalaman buruk saya berhubungan dengan pinjam-meminjam buku. Buku kembali dalam keadaan lecek/lusuh, rusak, dicoret-coret, bahkan tidak kembali. Dulu saya tidak terlalu peduli ketika buku yang dipinjam rusak atau tidak kembali. Tapi sekarang buku menjadi benda kesayangan yang setelah diadopsi saya rawat dan jaga baik-baik. Jadi jika sampai terjadi kerusakan atau kehilangan pada buku yang dipinjam, jangan salahkan jika saya jadi galak!  Buku saya yang rusak setelah dipinjam teman Foto di atas adalah contoh buku yang ...