Langsung ke konten utama

STOP! TINGGALKAN SEKARANG! NgeRIBAnget

STOP! TINGGALKAN SEKARANG! 
(Kumpulan Kisah Perjuangan Membebaskan Diri dari Belenggu Utang dan Riba)

Penulis: LovRinz and Friends
(Eva Supartini, Yudi Mashudi, Eva Arista, Rina Rinz, Karangningrum, Rachma Hadi, Nining Nurfajrina, Surya Pratama, Novie Purwanti, Fitriani Umar, Zahara Putri, Anggraeni Puspa, Lisa Sulis, Hepy Hiza, Liana Safitri, Nur Aminah, Sri Widyowati Kinasih, Fitri Junita, Isdamaya Seka, Faridah Wardah, Rizkan Fadhlin, Zika Amell, Anne Trihartanto, Indah Ershe, Aiu Ratna, Nur Fitri Agustin)

Penerbit: LovRinz Publishing
Cetakan: Pertama, Februari 2020
Tebal: 231 halaman
ISBN: 978-602-489-796-3


Utang dan riba. Sepertinya hampir semua orang saat ini punya hubungan dengan kedua hal tersebut. Lalu seberapa mengerikan, sih, utang dan riba itu--sampai harus dihindari? Apa semua utang adalah riba? Apa saja yang termasuk riba?

Terlepas dari berbagai pro kontra di luar sana mengenai utang dan riba, buku STOP! TINGGALKAN SEKARANG! hadir membawa sedikit pencerahan. Melalui berbagai pengalaman bergelut dengan utang dan riba, yang dituliskan kembali oleh 26 penulis. Dengan kisah yang berbeda-beda, kita turut dibawa larut ke dalam emosi para tokoh.



Ada yang berutang untuk modal usaha, optimis bisa mengembalikan, tapi kejadian tak terduga membuat jatuh bangkrut, terlilit utang, kehilangan segalanya, lalu susah payah berusaha bangkit kembali. Ada juga yang menginginkan membeli barang-barang secara kredit, tak mampu membayar, lalu dikejar-kejar debt collector. Ada yang suami/ istri, orangtua, saudara, atau temannya berutang, tapi si tokoh utama lah yang harus menghadapi teror penagih utang. Hubungan baik porak-poranda gara-gara utang dan riba. Ada pula yang bekerja di sebuah lembaga sebagai pencatat, penagih, tiba-tiba keluarganya tertimpa kemalangan bertubi-tubi.

Penuh perjuangan, pengorbanan, luka, dan air mata, hingga mereka bisa benar-benar melepaskan diri dari utang dan riba! 

Jadi, tak perlulah kita berdebat karena berbeda pendapat. Cukup baca buku ini saja. Menyelami pengalaman para narasumber. Biarkan hati yang memutuskan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kan, Masih Anak-Anak!

Anak-anak selalu digambarkan sebagai sosok yang aktif, lucu, menggemaskan, manja, dan nakal. Kata terakhir inilah yang mengendap begitu lama dalam pikiran saya, sehingga membuat saya tergelitik untuk membuat tulisan ini. Sampai sejauh mana kenakalan anak-anak masih bisa ditolerir, dianggap wajar? Ada seorang ibu yang berkunjung ke rumah temannya sambil membawa anak kecil. Anaknya sangat aktif, tidak bisa diam. Berlarian ke sana kemari sambil memegang barang-barang milik tuan rumah. Apa saja dipegang. Gelas minuman, toples makanan, helm, hiasan pajangan, keramik ... Sepasang mata sang tuan rumah--yang juga perempuan--tak lepas mengawasi sambil berusaha mendengarkan apa yang dibicarakan tamunya. Sesekali tersenyum. Namun hatinya berbisik waswas, Aduh, nanti kalau pecah bagaimana, ya? Sementara ibu tamu tetap duduk manis di sebelah tuab rumah, mengobrol dengan serunya. Hanya sesekali berseru, "Adek, jangan! Ayo kembalikan! Jangan ke sana-sana, tidak boleh!" ...

Pinjam Bukunya, Dong!

"Pinjam bukunya, dong!" Bagaimana reaksi teman-teman jika ada yang mengungkapkan kalimat itu? Meminjamkan buku dengan senang hati? Meminjamkan buku dengan waswas dan kasih pesan atau peringatan macam-macam? Atau menolak sama sekali? Kalau saya, ambil pilihan ketiga: menolak sama sekali. Saya paling anti meminjamkan buku pada orang lain. Silakan bilang saya pelit, sok, gaya, atau apa pun. Tapi saya jadi pelit bukan tanpa alasan. Banyak pengalaman buruk saya berhubungan dengan pinjam-meminjam buku. Buku kembali dalam keadaan lecek/lusuh, rusak, dicoret-coret, bahkan tidak kembali. Dulu saya tidak terlalu peduli ketika buku yang dipinjam rusak atau tidak kembali. Tapi sekarang buku menjadi benda kesayangan yang setelah diadopsi saya rawat dan jaga baik-baik. Jadi jika sampai terjadi kerusakan atau kehilangan pada buku yang dipinjam, jangan salahkan jika saya jadi galak!  Buku saya yang rusak setelah dipinjam teman Foto di atas adalah contoh buku yang ...

Amplop Sumbangan, Sosial Atau Gengsi?

Peristiwa ini sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Waktu itu, di lingkungan tempat sekolah saya berada, salah seorang warganya meninggal dunia. Kegiatan belajar mengajar diakhiri lebih cepat dan guru-guru mengimbau agar kami, para siswa menyempatkan diri untuk melayat ke rumah duka walau sebentar. Saya dan teman sebangku sepakat akan melayat bersama. Kami membeli amplop putih kecil untuk memasukkan uang sumbangan.  Teman saya melihat sejumlah uang yang akan saya masukkan dan cepat-cepat mencegah. "Jangan segitu! Kebanyakan!" Kemudian teman saya menjelaskan bahwa biasanya jumlah uang yang diberikan untuk sumbangan orang meninggal tidak banyak. Kalau sumbangan untuk orang menikah, barulah orang akan memberi banyak. Saya kurang memerhatikan aturan "sumbang-menyumbang". Karena ketika saya masih SMA, tentu saja yang punya kewajiban "nyumbang" adalah orangtua. Namun saya tidak paham dengan tradisi pemberian sumbangan yan...