Langsung ke konten utama

DIBAIKI NGELUNJAK, DIDIAMKAN SEMAKIN MENJADI, DIKASIH TAHU BIKIN RAME. MAUMU APA?

Ini tentang orang yang tinggal di sebelah rumah. Yang "katanya" disebut saudara paling dekat. Yup! TETANGGA. 

Beberapa waktu lalu ada berita tentang seseorang yang membangun pembatas di jalan yang bersebelahan dengan rumah tetangganya. Katanya orang yang membangun pembatas itu merasa jengkel karena ayam tetangga sering mengotori pekarangannya. Tapi saya tidak mau membahas berita yang di tv itu. Pasti sudah banyak yang tahu lah. Saya cuma mau bilang: betapa peliknya berurusan (bermasalah) dengan tetangga. 

Dulu waktu saya kerja di laundry (yang pertama) bos saya bermasalah dengan tetangganya karena tanah di bagian belakang rumah "dipepet" sama tetangga untuk mendirikan bangunan rumah dia. Bu Bos mendatangi pemilik rumah itu. Ya, intinya mengatakan kalau dia keberatan tanah yang disisakan itu dipepet untuk bangun rumah. Ngomongnya baik-baik. Tidak pakai ancaman atau lagak sok kuasa. Tapi tetangga bos saya cuek saja. Malah seperti tidak terima dibilangin begitu. Dan kalau berpapasan sama Bu Bos malah melotot. Bu Bos sempat memanggil RT/ RW untuk menyelesaikan konflik ini. Batas patok tanah pun bisa dilihat jelas dengan mata telanjang. Bahwa memang ada bagian tanah Bu Bos yang dilewati tetangganya untuk mendirikan rumah. Namun akhirnya Bu Bos memilih mengalah. Membiarkan sebagian tanahnya "dimangsa" tetangga. Dia bilang ke saya, "Saya tidak mau ribut-ribut, Mbak."

Lalu di laundry kedua tempat saya pernah bekerja, bos saya juga bermasalah dengan tetangga. (Ini sudah beda orang dengan yang tadi, ya.) Tetangga bos pelihara kucing dan sering buang kotoran di halaman Bu Bos. Bu Bos setiap hari kebagian tai kucing, dialah yang membersihkan. Saya pun setiap hari harus mendengar omelannya. Sampai suatu saat saya bilang, "Datangi saja tetangga yang pelihara kucing itu, Bu. Suruh diawasi biar nggak buang kotoran sembarangan."

Namun Bu Bos menolak dengan ekspresi malas, "Ah, wegah, Mbak. Marai rame." (Ah, nggak mau, Mbak. Bikin ribut.)

Waktu itu saya geregetan sekali sama kedua bos saya. Daripada ngedumel di belakang, kan, lebih baik ngomong langsung sama tetangganya. "Saya keberatan." Atau, "Saya merasa terganggu." Gampangnya seperti itu.

Ternyata tidak gampang.

Setelah saya mengalami sendiri. Dan saya merasa kena batunya, ketika berurusan dengan tetangga berkepala batu.

Pertama, tetangga yang ngontrak di separuh bagian rumah Simbah. Punya anak kecil yang sering sekali menangis karena tantrum. Bagian ini saya maklum, anak-anak memang suka menangis. Tapi yang cukup mengganggu adalah, ketika sang anak menangis, orang tuanya bisa mendiamkannya sampai berjam-jam. Tidak peduli siang atau malam. Bahkan sering mengunci anaknya di dalam kamar untuk ditinggal ke pasar. Mengganggu tetangga yang lain sampai keluarga kami merasa malu. Si pengontrak itu sempat disindir-sindir agar mengurus anaknya dengan benar. Namun ibu si anak tidak peduli dengan sindiran kami. Malah bikin ulah lain, menghidupkan keran air sepanjang malam, tidak peduli jika yang punya rumah jadi tidak bisa tidur. Dia bahkan sudah tidak menghormati kami sebagai pemilik rumah, karena tahu Simbah saya orangnya sangat baik. Tidak akan marahi orang, meskipun yang mengontrak rumahnya bikin kerusakan di mana-mana.

Alhamdulillah, pengontrak rumah yang kurang ajar sudah pindah dari rumah kami.

Kejadian lain, adalah dengan tetangga sebelah yang rumahnya berdempetan dengan rumah keluarga kami, tepat di deretan kamar saya. Setiap hari tembok kamar saya dipukuli untuk memecahkan es batu, yang tentu saja sangat mengganggu. Pernah saya teriaki, "Iki ngapa, ta, ya? Tuthuk-tuthuk wae?" (Ini kenapa, ya? Pukul-pukul terus?) Ulah tetangga saya sempat berhenti.

Lebaran tahun lalu keluarga kami silaturahmi ke tempat tetangga tersebut. Kami berjabat tangan, tersenyum, mengobrol seperti biasa. Saya pikir masalahnya sudah selesai. Saya kira tetangga itu tidak akan mengganggu saya. Ternyata tidak. Mungkin karena saya memberikan gelagat yang baik, tetangga itu jadi berpikir, "Tidak apa-apa tembok rumahnya kupukuli es batu, toh, dia tetap bersikap ramah." Tetangga itu kumat, memukuli tembok kamar saya dengan es batu. Bahkan lebih parah.

Ketika saya kesal, marah, dan sakit hati karena kelakuan tetangga yang terasa sangat menginjak-injak harga diri itu, saya jadi teringat dengan dua bos saya. Mungkin sebaiknya saya juga diam saja. Tidak perlu mengeluhkan apa-apa, tidak perlu berbuat apa-apa dengan kelakuan tetangga yang menyebalkan.

Karena memang ada jenis orang yang dibaiki ngelunjak, didiamkan semakin menjadi, dikasih tahu bikin rame.


Sumber gambar: PIXABAY

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kan, Masih Anak-Anak!

Anak-anak selalu digambarkan sebagai sosok yang aktif, lucu, menggemaskan, manja, dan nakal. Kata terakhir inilah yang mengendap begitu lama dalam pikiran saya, sehingga membuat saya tergelitik untuk membuat tulisan ini. Sampai sejauh mana kenakalan anak-anak masih bisa ditolerir, dianggap wajar? Ada seorang ibu yang berkunjung ke rumah temannya sambil membawa anak kecil. Anaknya sangat aktif, tidak bisa diam. Berlarian ke sana kemari sambil memegang barang-barang milik tuan rumah. Apa saja dipegang. Gelas minuman, toples makanan, helm, hiasan pajangan, keramik ... Sepasang mata sang tuan rumah--yang juga perempuan--tak lepas mengawasi sambil berusaha mendengarkan apa yang dibicarakan tamunya. Sesekali tersenyum. Namun hatinya berbisik waswas, Aduh, nanti kalau pecah bagaimana, ya? Sementara ibu tamu tetap duduk manis di sebelah tuab rumah, mengobrol dengan serunya. Hanya sesekali berseru, "Adek, jangan! Ayo kembalikan! Jangan ke sana-sana, tidak boleh!" ...

Pinjam Bukunya, Dong!

"Pinjam bukunya, dong!" Bagaimana reaksi teman-teman jika ada yang mengungkapkan kalimat itu? Meminjamkan buku dengan senang hati? Meminjamkan buku dengan waswas dan kasih pesan atau peringatan macam-macam? Atau menolak sama sekali? Kalau saya, ambil pilihan ketiga: menolak sama sekali. Saya paling anti meminjamkan buku pada orang lain. Silakan bilang saya pelit, sok, gaya, atau apa pun. Tapi saya jadi pelit bukan tanpa alasan. Banyak pengalaman buruk saya berhubungan dengan pinjam-meminjam buku. Buku kembali dalam keadaan lecek/lusuh, rusak, dicoret-coret, bahkan tidak kembali. Dulu saya tidak terlalu peduli ketika buku yang dipinjam rusak atau tidak kembali. Tapi sekarang buku menjadi benda kesayangan yang setelah diadopsi saya rawat dan jaga baik-baik. Jadi jika sampai terjadi kerusakan atau kehilangan pada buku yang dipinjam, jangan salahkan jika saya jadi galak!  Buku saya yang rusak setelah dipinjam teman Foto di atas adalah contoh buku yang ...

Amplop Sumbangan, Sosial Atau Gengsi?

Peristiwa ini sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Waktu itu, di lingkungan tempat sekolah saya berada, salah seorang warganya meninggal dunia. Kegiatan belajar mengajar diakhiri lebih cepat dan guru-guru mengimbau agar kami, para siswa menyempatkan diri untuk melayat ke rumah duka walau sebentar. Saya dan teman sebangku sepakat akan melayat bersama. Kami membeli amplop putih kecil untuk memasukkan uang sumbangan.  Teman saya melihat sejumlah uang yang akan saya masukkan dan cepat-cepat mencegah. "Jangan segitu! Kebanyakan!" Kemudian teman saya menjelaskan bahwa biasanya jumlah uang yang diberikan untuk sumbangan orang meninggal tidak banyak. Kalau sumbangan untuk orang menikah, barulah orang akan memberi banyak. Saya kurang memerhatikan aturan "sumbang-menyumbang". Karena ketika saya masih SMA, tentu saja yang punya kewajiban "nyumbang" adalah orangtua. Namun saya tidak paham dengan tradisi pemberian sumbangan yan...