Langsung ke konten utama

OCEHAN KALA LISTRIK MATI

KONON katanya, zaman dulu ketika belum ada listrik, orang-orang akan keluar rumah saat malam bulan purnama. Sampai ada lagunya, Padhang Mbulan

Tapi zaman sekarang kebalik. Ketika malam tiba, orang-orang akan masuk rumah dan menyalakan lampu. Saat mati listrik, dan di dalam rumah tidak ada sumber cahaya lain, banyak yang akan keluar rumah. Karena segelap-gelapnya di luar rumah, di dalam rumah masih lebih gelap.

Hal itu pun saya alami.

Beberapa hari lalu setelah siangnya menghadiri acara ulang tahun SMA, mulai jam enam sore terjadi pemadaman listrik di daerah tempat kos. Otomatis wifi mati, baterai ponsel tinggal sedikit. Mau baca buku gelap. Karena di tempat kos saya tidak bawa lampu kecil yang biasa saya gunakan waktu berada di kamar gelap di rumah.

Saya duduk-duduk di depan kamar kos. Tetangga kos di kamar seberang ada seorang ibu muda dengan anak laki-lakinya yang masih kecil. Panggil saja mereka Mama Is dan Ivel. Kami mengobrol banyak sambil berharap listrik kembali menyala. Oya, Ivel ini sebenarnya dilahirkan kembar. Saudara kembar Ivel terpaksa dititipkan ke neneknya karena Mama Is tidak memungkinkan merawat dua anak yang masih kecil sendirian di tempat kos. Kasihan, ya... 

Namun sampai jam tujuh kami masih berada dalam gelap. Hingga satu per satu tetangga kos yang lain pulang dari kampus atau tempat kerja mereka, semua pada bingung. Tidak ada sumber listrik untuk isi baterai ponsel, sambungan wifi putus, air keran juga mati. Di sela-sela obrolan, sesekali terdengar seruan jengkel Mbak She tetangga kos yang mengeluh, "Kenapa mati listrik lama sekali? Ya Tuhan... aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidup tanpa listrik?"

Lalu Ivel mulai rewel, minta nonton film robot di ponsel mamanya. "Youtube, Ma... youtube..."

"Baterai ponsel Mama habis, Dek. Nggak bisa nonton youtube."

Mbak She memperhatikan sebentar Ivel yang merengek-rengek. "Orang zaman dulu, apa ya, yang dikerjakan kalau hari mulai gelap?"

"Tahulah... kita baru mati listrik sebentar saja sudah heboh begini."

"Tapi mungkin kalau sudah dihadapkan pada keadaan seperti itu (tanpa listrik), ya, bisa, Mbak Is. Kita bingung karena selama ini terlalu tergantung sama listrik," Mbak She menyimpulkan.

Ivel ribut terus minta nonton film robot. Lalu Mama Is mengajaknya beli lilin di warung. Saat lilin dinyalakan di lantai teras kami, Ivel malah menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun sambil bertepuk tangan. Kami sempat membercandai, "Ayo Ivel, bisa tiup lilin, nggak?" 

Ivel meniup lilin berkali-kali dengan penuh semangat, tapi tidak bisa-bisa. Kami tertawa melihat ulahnya. Sampai pada tiupan yang ke sekian. Hap! Lilin padam. Ivel gembira sekali berhasil tiup lilin. Anak itu berteriak-teriak girang, "Hore! Hore! Lilinnya mati!"

Mama Is menyalakan lilin lagi. Ditiup lagi sama Ivel. Menyalakan lilin lagi. Ditiup lagi. Menyalakan lilin lagi. Ditiup lagi. Dikira benar-benar sedang ulang tahun mungkin, ya, tiup lilin terus? (Eh... tapi kan, siang harinya saya memang barusan dari acara ulang tahun! Haha...)

"Jangan ditiup terus, Dek! Nanti gelap! Ulang tahunnya udah selesai." Mama Is capek juga dikerjain Ivel.

Anak yang sangat aktif, tidak bisa diam itu malah jawab, "Gelap yo ben!"

Huh!

Sekitar jam tujuh atau setengah delapan ibu saya pulang. Rupanya Ibu tidak betah juga kondisi mati listrik, gelap begini. "Ivel... pergi naik motor, yuk! Beli jagung bakar mau, nggak?"

Mendengar tawaran tersebut Ivel langsung melemparkan sebungkus snack di tangannya, "Hooh, yuk! Beli jagung bakar sama es teh, yuk! Ayo... ayo!" Ivel senang sekali sama es teh. Kalau pergi mau beli minuman, yang diminta pasti es teh.

Dan...

Kami melewatkan malam mati listrik itu dengan makan jagung bakar, dan berbagai camilan lain, diiringi obrolan tak habis-habis. Kalau listrik tidak mati mana sempat kumpul-kumpul begini? Pasti sibuk sendiri-sendiri di dalam rumah/ kamar dengan ponsel, laptop, atau tv.

Terkadang kita memang harus kehilangan sesuatu untuk menyadari keberadaan hal lain yang telah lama diabaikan.

*Foto ini saya ambil waktu Ivel mau tiup lilin tapi selalu gagal. Ingin tahu seperti apa sih, hasil foto di tempat gelap. Ternyata saya malah suka. Ya sudah, akhirnya saya mikir, cerita apa yang pas, sesuai dengan foto. Jadilah cerita sederhana ini. Dari sini kita tahu bahwa sebenarnya apa pun bisa dijadikan bahan tulisan/ cerita.

Senin, 31 Agustus 2020
17.36

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kan, Masih Anak-Anak!

Anak-anak selalu digambarkan sebagai sosok yang aktif, lucu, menggemaskan, manja, dan nakal. Kata terakhir inilah yang mengendap begitu lama dalam pikiran saya, sehingga membuat saya tergelitik untuk membuat tulisan ini. Sampai sejauh mana kenakalan anak-anak masih bisa ditolerir, dianggap wajar? Ada seorang ibu yang berkunjung ke rumah temannya sambil membawa anak kecil. Anaknya sangat aktif, tidak bisa diam. Berlarian ke sana kemari sambil memegang barang-barang milik tuan rumah. Apa saja dipegang. Gelas minuman, toples makanan, helm, hiasan pajangan, keramik ... Sepasang mata sang tuan rumah--yang juga perempuan--tak lepas mengawasi sambil berusaha mendengarkan apa yang dibicarakan tamunya. Sesekali tersenyum. Namun hatinya berbisik waswas, Aduh, nanti kalau pecah bagaimana, ya? Sementara ibu tamu tetap duduk manis di sebelah tuab rumah, mengobrol dengan serunya. Hanya sesekali berseru, "Adek, jangan! Ayo kembalikan! Jangan ke sana-sana, tidak boleh!" ...

Pinjam Bukunya, Dong!

"Pinjam bukunya, dong!" Bagaimana reaksi teman-teman jika ada yang mengungkapkan kalimat itu? Meminjamkan buku dengan senang hati? Meminjamkan buku dengan waswas dan kasih pesan atau peringatan macam-macam? Atau menolak sama sekali? Kalau saya, ambil pilihan ketiga: menolak sama sekali. Saya paling anti meminjamkan buku pada orang lain. Silakan bilang saya pelit, sok, gaya, atau apa pun. Tapi saya jadi pelit bukan tanpa alasan. Banyak pengalaman buruk saya berhubungan dengan pinjam-meminjam buku. Buku kembali dalam keadaan lecek/lusuh, rusak, dicoret-coret, bahkan tidak kembali. Dulu saya tidak terlalu peduli ketika buku yang dipinjam rusak atau tidak kembali. Tapi sekarang buku menjadi benda kesayangan yang setelah diadopsi saya rawat dan jaga baik-baik. Jadi jika sampai terjadi kerusakan atau kehilangan pada buku yang dipinjam, jangan salahkan jika saya jadi galak!  Buku saya yang rusak setelah dipinjam teman Foto di atas adalah contoh buku yang ...

Di Rumah Saja, Baca Buku SESUATU YANG KAMI SEBUT RUMAH

SESUATU YANG KAMI SEBUT RUMAH Penulis: Sri Bandiyah | Rini Dwi | Liana Safitri | Rizki Fujiyanti | Fitriani Umar | Sri Widyowati Kinasih | Deasy Hana | Silvia Destriani | Ana | Zubaidah | Sekar Rahayu | Ikawati Iskandar | Siti Nurun Na'imah | Artie Puspita | Wahyu Hakimah | Asma Ridha | Iffa Hanifah | Winda Damayanti Rengganis | Nurul Hidayati | Farah Fatihah | Nurhayati | Muhammad Ade Gunawan | Irman Rahman Mulya Penerbit: JWriting Soul Publishing Tebal: 240 halaman Cetakan: Pertama, Maret 2020 ISBN: 978-623-7788-34-8 Nubar (nulis bareng) 6 yang diadakan oleh Penerbit JWriting Soul Publishing mengambil tema "Rumah". Yang entah kenapa membuat hati saya tergugah dan ingin mengikutinya. Sejak mencari ide saya bimbang antara menulis cerita yang diangkat dari kisah nyata atau fiksi. Akhirnya saya memilih menulis cerita fiksi. Saya tak menemui kesulitan yang berarti selama proses penulisan hingga naskah dikirim. Dilanjutkan dengan pemilihan cover yang seru dan mem...