Langsung ke konten utama

ULANG TAHUN SMA NEGERI 1 GAMPING DAN PERESMIAN PERPUSTAKAAN WIJAYA KUSUMA



Beberapa waktu lalu seorang teman lama mengirim sebuah foto undangan lewat pesan WA. "Liana dapat undangan." Yang membuat saya terkejut, kop undangan itu ada logo sekolah disertai sederet aksara Jawa. Acara yang tertulis adalah "Syukuran dan Peresmian Perpustakaan Wijaya Kusuma Pustaka".

Sejak jauh-jauh hari saya mempersiapkan diri untuk menghadiri pertemuan tersebut. Pikiran saya tak henti menerka-nerka, acara peresmian nanti akan seperti apa? Siapa saja yang diundang? 

Pagi 25 Agustus, saya melangkahkan kaki memasuki gerbang sekolah yang bertahun-tahun lalu menjadi tempat menuntut ilmu. Terakhir kali saya ke sana sekitar setahun lalu, saat mengantarkan novel Diary Gamophobia untuk perpustakaan--banyak ruangan sedang direnovasi. Sekarang saya lihat ruangan-ruangan yang dibangun sudah mulai selesai.

Terutama, tentu saja perpustakaan. Tampak indah dengan cat warna-warni dengan meja kursi tak kalah semarak bak pelangi. Waktu akan masuk ke perpustakaan, guru-guru berlalu-lalang di koridor. Meja penuh makanan dan minuman berderet disertai hiasan. 

Seperti orang tersesat, saya agak bingung dan gugup. Sampai ada seorang guru perempuan mendekat dan menanyakan keperluan saya. Saya sebut nama teman (petugas perpustakaan) yang mengirimkan undangan. Beberapa guru dan karyawan langsung paham dan mengantar saya bertemu teman tersebut.

Karena menunggu tamu-tamu berdatangan, acara sempat tertunda beberapa menit. Selama itu, saya yang dipersilakan duduk di ruang perpustakaan baru melihat para guru begitu sibuk menyiapkan acara. 

Tamu undangan berdatangan satu per satu. Karena protokol Covid, sebagian besar dari kami tidak bersalaman, hanya menangkupkan kedua tangan di depan dada.

Beberapa guru saya kenal, tapi saya ragu-ragu menyapa--karena begitu cepatnya orang datang dan pergi. Ada juga guru-guru yang tidak saya kenal. Mungkin beliau bertugas di SMA Negeri 1 Gamping setelah saya lulus.

Sebelum acara dimulai, saya sempat mengikuti obrolan para guru yang menjadi tamu undangan bersama kepala sekolah yang sedang menjabat.

"Perpustakaan itu kalau zaman dulu, kan, harus tenang, teratur, tidak boleh ribut. Kalau sekarang peraturannya beda. Murid-murid yang masuk perpustakaan harus dibuat senang, nyaman, gembira. Makanya perpustakaan kita renovasi dengan cat warna-warni begini. Walaupun ketika orang tua yang masuk rasanya seperti berada di kelas anak TK."

Rupanya perpustakaan sekolah saat ini pun ada nilai akreditasi, mensyaratkan beberapa hal yang harus dipenuhi. Selain ruangan harus nyaman, jumlah buku mencukupi, tersedia kafetaria khusus perpustakaan, juga harus ada gazebo khusus tempat baca. Namun pada saat saya ke sana kafetaria khusus perpustakaan belum buka.

Kami dipersilakan menikmati hidangan pembuka (makanan ringan dan minuman) sebelum acara dimulai. Tapi para tamu diminta memakannya di luar ruangan perpustakaan demi menjaga kebersihan. Saat inilah saya mencuri waktu selfie bersama Diary Gamophobia.

Dinding di ujung perpustakaan ada semacam lemari dengan etalase kaca bergambar wayang gunungan dan bunga Wijaya Kusuma. Kemudian di depannya ada meja lebar dengan kursi utama. Di atas meja ini sudah terhidang tumpeng nasi kuning, menanti dipotong dan disantap. Tanaman dalam pot-pot kecil ditaruh dalam rak di dekat pintu masuk kaca, memberi kesan asri. Pada sisi lainnya berderet meja kursi, rak-rak buku dan etalase.

Karena terlalu asyik foto-foto sendiri, saya tidak sadar jika di dalam ruangan tersebut tinggal saya sendiri. Sampai dipanggil-panggil guru keluar, disuruh makan. Ya ampun! Haha...

Saya menyusul mengambil makanan pembuka, lalu memilih posisi paling nyaman di antara deretan kursi di luar perpustakaan, pada sela-sela pepohonan rindang. Semilir angin yang lebih nyaman daripada AC (menurut saya sih, begitu) mengiringi acara "ngemil" kami.

Setelah itu para tamu dipersilakan masuk lagi karena acara akan dimulai. Jadwal acara dibacakan oleh dua orang MC. Setelah doa bersama, berikutnya adalah menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mars sekolah, pemberian sambutan (saya lupa siapa saja yang memberi sambutan) lalu acara inti, peresmian perpustakaan diikuti pemotongan tumpeng nasi kuning.

*Di tengah-tengah doa, saya mendapat gangguan ponsel yang terus bergetar. Dari orang rumah yang ribut minta kunci! Sungguh mengganggu kekhidmatan!

Peresmian perpustakaan seharusnya dilakukan oleh kepala sekolah pertama (pendiri). Namun karena sudah tidak bisa ditemui, maka peresmian dilakukan oleh kepala sekolah yang menjabat setelah pendiri. Bapak kepala sekolah ini juga yang dulu menjabat saat saya masih menjadi murid di SMA. Peresmian perpustakaan dibarengi dengan syukuran ulang tahun sekolah yang seharusnya jatuh pada tanggal 23 Agustus. Namun karena berbagai pertimbangan akhirnya acara ditetapkan hari Selasa tanggal 25 Agustus 2020.

Selama acara berlangsung, saya tengok kiri-kanan, tamu undangan adalah para guru yang sudah pensiun atau mantan karyawan. Cuma saya sendiri yang mantan murid. Yang lainnya pahlawan tanpa tanda jasa, saya pahlawan kesiangan! Rasanya itu... campur-campur! Saya sempat "ngedumel" dalam hati pada teman saya yang kirim undangan.

"Gila, nih, si Mbak! Masa cuma aku alumni yang diundang!" Serasa seperti "salah undang".

Di bagian akhir, para tamu undangan diminta menuliskan kesan dan pesan di sebuah buku. Saya kebagian paling akhir, ketika semua orang sudah berkumpul di luar untuk foto bersama. Jadilah saya menulis terburu-buru.

Meski demikian, tentu ada juga rasa bahagia dan syukur dalam hati. Syukur karena Allah memberi saya kesempatan untuk datang kembali ke "rumah kedua", bersilaturahmi dengan keluarga besar SMA.

Usai potong tumpeng, kami dipersilakan istirahat alias makan-makan. Jika di awal makanan kecil, kali ini makanan pembuka. Bagi saya yang susah makan, sebenarnya yang lebih menyenangkan adalah bisa ngobrol-ngobrol langsung dengan guru dan karyawan. Apalagi sekolah sepi karena murid-murid sedang belajar daring. Sebenarnya momen temu kangen ini terasa lebih longgar (walaupun dibayangi corona dan banyak aturan ini itu).

Dari Mbak penjaga perpustakaan saya baru tahu asal-usul "undangan langka" yang diberikan pada saya--merupakan instruksi dari Pak Kepala Sekolah. Ya, ini karena Mbak perpus juga, sih, yang pamer novel Diary Gamophobia ke beliau, sehingga beliau memutuskan mengundang saya.

Selesai makan-makan, sambil membawa segelas es campur di tangan, saya melipir ke ruangan tempat pendataan buku. Di antara tumpukan buku yang memenuhi seluruh ruangan, mata saya bisa-bisanya menangkap buku antologi Kepak Sayap sang Malaikat yang saya tulis bersama teman-teman.


Ternyata buku-buku dari ruangan ini masih belum selesai "diproses". Para petugas perpustakaan harus lembur mengurus buku-buku ini sebelum bisa dipindahkan dan ditata di perpustakaan baru. Pantas di perpustakaan belum ada bukunya. Padahal dari rumah saya sudah membayangkan bisa baca-baca buku sebentar di perpustakaan.

Semoga bisa tercapai lain waktu.

Terima kasih tak terhingga saya ucapkan pada para guru dan karyawan SMA Negeri 1 Gamping yang telah mengundang saya. 

Jaya selalu SMA Negeri 1 Gamping, tebarkan harum sewangi bunga Wijaya Kusuma 


Rabu, 26 Agustus 2020
18.04

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kan, Masih Anak-Anak!

Anak-anak selalu digambarkan sebagai sosok yang aktif, lucu, menggemaskan, manja, dan nakal. Kata terakhir inilah yang mengendap begitu lama dalam pikiran saya, sehingga membuat saya tergelitik untuk membuat tulisan ini. Sampai sejauh mana kenakalan anak-anak masih bisa ditolerir, dianggap wajar? Ada seorang ibu yang berkunjung ke rumah temannya sambil membawa anak kecil. Anaknya sangat aktif, tidak bisa diam. Berlarian ke sana kemari sambil memegang barang-barang milik tuan rumah. Apa saja dipegang. Gelas minuman, toples makanan, helm, hiasan pajangan, keramik ... Sepasang mata sang tuan rumah--yang juga perempuan--tak lepas mengawasi sambil berusaha mendengarkan apa yang dibicarakan tamunya. Sesekali tersenyum. Namun hatinya berbisik waswas, Aduh, nanti kalau pecah bagaimana, ya? Sementara ibu tamu tetap duduk manis di sebelah tuab rumah, mengobrol dengan serunya. Hanya sesekali berseru, "Adek, jangan! Ayo kembalikan! Jangan ke sana-sana, tidak boleh!" ...

Pinjam Bukunya, Dong!

"Pinjam bukunya, dong!" Bagaimana reaksi teman-teman jika ada yang mengungkapkan kalimat itu? Meminjamkan buku dengan senang hati? Meminjamkan buku dengan waswas dan kasih pesan atau peringatan macam-macam? Atau menolak sama sekali? Kalau saya, ambil pilihan ketiga: menolak sama sekali. Saya paling anti meminjamkan buku pada orang lain. Silakan bilang saya pelit, sok, gaya, atau apa pun. Tapi saya jadi pelit bukan tanpa alasan. Banyak pengalaman buruk saya berhubungan dengan pinjam-meminjam buku. Buku kembali dalam keadaan lecek/lusuh, rusak, dicoret-coret, bahkan tidak kembali. Dulu saya tidak terlalu peduli ketika buku yang dipinjam rusak atau tidak kembali. Tapi sekarang buku menjadi benda kesayangan yang setelah diadopsi saya rawat dan jaga baik-baik. Jadi jika sampai terjadi kerusakan atau kehilangan pada buku yang dipinjam, jangan salahkan jika saya jadi galak!  Buku saya yang rusak setelah dipinjam teman Foto di atas adalah contoh buku yang ...

Amplop Sumbangan, Sosial Atau Gengsi?

Peristiwa ini sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Waktu itu, di lingkungan tempat sekolah saya berada, salah seorang warganya meninggal dunia. Kegiatan belajar mengajar diakhiri lebih cepat dan guru-guru mengimbau agar kami, para siswa menyempatkan diri untuk melayat ke rumah duka walau sebentar. Saya dan teman sebangku sepakat akan melayat bersama. Kami membeli amplop putih kecil untuk memasukkan uang sumbangan.  Teman saya melihat sejumlah uang yang akan saya masukkan dan cepat-cepat mencegah. "Jangan segitu! Kebanyakan!" Kemudian teman saya menjelaskan bahwa biasanya jumlah uang yang diberikan untuk sumbangan orang meninggal tidak banyak. Kalau sumbangan untuk orang menikah, barulah orang akan memberi banyak. Saya kurang memerhatikan aturan "sumbang-menyumbang". Karena ketika saya masih SMA, tentu saja yang punya kewajiban "nyumbang" adalah orangtua. Namun saya tidak paham dengan tradisi pemberian sumbangan yan...