Langsung ke konten utama

OSPEK, OH... OSPEK

OSPEK OH... OSPEK

Lagi rame soal ospek, ya? Jadi pengen cerita pengalaman pas OSPEK/ MOS di SMA dulu. Untungnya sih, MOS saya tidak sampai menyiksa fisik. Cuma kalau dibentak-bentak kakak kelas ya, sama saja. Kayaknya rata-rata para kakak kelas memang dijangkiti penyakit senioritas.


Waktu pertama kali masuk SMA ada pembagian kelas. Mau masuk kelas mana, kakak kelas yang bacakan daftarnya. Setelah semua siswa masuk ke kelas masing-masing, kami diberi pengarahan tentang perlengkapan apa saja yang harus dibawa di hari pertama MOS. 

Perlengkapan untuk kegiatan aneh-aneh tersebut misalnya:

1. Bawa tas dari kantong gandum.
2. Untuk perempuan rambutnya dikuncir pakai tali rafia sebanyak angka tanggal lahir. Itu buat yang tidak pakai jilbab. Bagi yang pakai jilbab, kain sisa kerudung yang menjuntai di bagian depan itu diikat pakai rafia!

3. Pakai topi dari bola plastik yang dibelah jadi dua.

4. Pakai kalung identitas nama dan kelas dari kertas asturo yang dikalungkan ke leher pakai rafia. Juga tulisan nama berbentuk lingkaran pakai kertas asturo yang dipasang di dada dengan peniti.

Perlengkapan tersebut wajib dibawa selama tiga hari. Perlengkapan tambahan juga ada, tapi jenisnya berganti-ganti sesuai teka-teki yang diberikan.

Selama tiga hari MOS, kami diberi teka-teki yang harus dijawab dengan membawa barang, makanan, atau minuman di hari berikutnya. Kalau jawabannya benar, makanan/ minuman itu dimakan dan diminum sendiri ketika jam makan siang. Jika yang jadi jawaban sebuah barang, misalnya pulpen, ya, dipakai sendiri. Jadi teka-teki yang diberikan pada saat MOS tampaknya bertujuan untuk "mempersulit hal yang seharusnya bisa dibikin mudah".

Kegiatan MOS lainnya adalah menulis surat cinta untuk kakak kelas. Entah ini tujuannya apa? Mungkin biar adik kelas tidak kagok mengungkapkan perasaan saat mulai jatuh cintrong? Lalu surat cinta dibaca di depan kakak kelas yang kita pilih. Untungnya kakak kelas pilihan saya (lebih tepatnya pilihan terpaksa, karena aslinya tidak ada yang saya pilih) di hari pembacaan surat malah tidak masuk. Jadi saya tidak disuruh maju baca surat. MERDEKA! Hahaha! 🤣

Lainnya lagi? Disuruh minta tanda tangan kakak kelas. Mungkin para kakak kelas kepengen jadi artis tapi tidak kesampaian, makanya adik kelasnya disuruh akting pura-pura nge-fans, ngejar-ngejar minta tanda tangan. Untuk mendapatkan tanda tangan kami harus menuruti hal-hal yang diminta kakak kelas. Misalnya nyanyi. Ini sih, mending, ya...

Saya bersama dua orang teman perempuan disuruh keliling pohon di halaman sekolah sebanyak tujuh kali sambil teriak-teriak, "Mas Geraldo cakep! Mas Geraldo cakep!" Malu? Sudah nggak sempat! Pengen cepet dapat tanda tangan dan selesai. Sengaja saya kerasin suara, biar orangnya tambah GR! Setelah kira-kira seminggu di sekolah baru, saya pengen tahu yang namanya Geraldo yang mana? (Karena waktu itu kakak kelas kan, pada duduk bergerombol, jadi tidak tahu orangnya.) Penasaran, siapa tahu ganteng kayak aktor telenovela. Wong namanya saja sudah keren gitu, lho, Geraldo. Ternyata... orangnya blasss nggak ada ganteng-gantengnya!

Saat kelas 12 saya cerita tentang MOS yang disuruh keliling pohon sambil meneriakkan nama kakak kelas pada teman sebangku. Teman saya tidak mau kalah. Kami berebut membandingkan kegiatan siapa yang lebih konyol. "Lha kowe mending dikon mubengi wit ping pitu! Aku? Dikon mlayu mubengi lapangan karo bengak-bengok, 'Aku adalah... wanita kesepian!' Mendengar ceritanya, saya langsung ngakak sejadi-jadinya. Wah... ternyata ada yang lebih parah!

Jika di hari pertama dan kedua MOS pulang sampai jam lima sore, hari ketiga pulang sampai jam tujuh malam. Tanpa melihat daftar kegiatan, baca jam pulang saja sudah membuat mata melotot. 'Hah? Pulang jam tujuh malam, berarti aku nggak bisa nonton Love of the Aegean Sea, dong?'

Saya sempat minta Ibu buatkan surat izin biar tidak usah ikut MOS di hari ketiga yang jamnya kebangetan itu. Ibu saya langsung tahu alasannya. "Lha ngapa ra melu MOS? Mesti mung arep nonton film kuwi! Rasah aing-aing! Mengko ndak malah dihukum! Mangkat wae!" Terpaksa saya berangkat dengan setengah hati.

Kegiatan MOS dari pagi sampai sore berlangsung seperti biasa. Pengenalan guru, diskusi-debat, jawab teka-teki, pemberian hukuman dengan menyanyi dan menari, makan siang hingga latihan baris-berbaris (alias dijemur di lapangan). Kegiatan tambahan setelah jam lima ternyata olah raga dan sejenisnya yang mengandalkan fisik. Karena saya tidak bisa ikut olah raga, jadi dibolehkan masuk kelas. Ada beberapa teman lain juga yang sudah izin sebelumnya tidak ikut kegiatan terakhir karena umumnya bermasalah dengan kesehatan.

Huh! Tahu begini, kan, saya minta dijemput jam lima. Daripada melamun di kelas. Telepon? Oh, murid baru yang sedang MOS tidak boleh bawa hp. Mungkin takut kegiatannya ditinggal kabur! Jam setengah enam seorang kakak kelas masuk ke dalam kelas. Menawari apa saya mau diteleponkan orang rumah biar dijemput?

Dalam hati saya cuma berseru dongkol, 'Kenapa nawarinnya nggak dari tadi, Mbak? Sekarang ya, percuma, drama kesayanganku sudah mau bubar!'

Akhirnya saya mengikuti MOS sampai selesai. Bisa dibilang MOS saya tidak parah-parah amat, meskipun memang konyol sekali. Pengalaman paling buruk? Tidak bisa nonton Tommy Su di satu episode 'Love of the Aegean Sea'. Kelihatannya sepele, tapi hal itu berhasil bikin saya gemas sampai sekarang.

*Eh... di list fb saya tidak ada mantan kakak kelas kan, ya? Ada juga nggak apa-apa, sih! 😆 Atau orang dari sekolah, kalau baca tulisan ini semoga bisa jadi evaluasi ke depannya. Biar kalau mengadakan MOS, yang bagian bawa barang aneh-aneh dan pakai atribut macam-macam dihilangkan saja, karena sama sekali tidak bermanfaat. Kasihan orang tuanya juga ikut repot.


Sumber gambar: PIXABAY

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kan, Masih Anak-Anak!

Anak-anak selalu digambarkan sebagai sosok yang aktif, lucu, menggemaskan, manja, dan nakal. Kata terakhir inilah yang mengendap begitu lama dalam pikiran saya, sehingga membuat saya tergelitik untuk membuat tulisan ini. Sampai sejauh mana kenakalan anak-anak masih bisa ditolerir, dianggap wajar? Ada seorang ibu yang berkunjung ke rumah temannya sambil membawa anak kecil. Anaknya sangat aktif, tidak bisa diam. Berlarian ke sana kemari sambil memegang barang-barang milik tuan rumah. Apa saja dipegang. Gelas minuman, toples makanan, helm, hiasan pajangan, keramik ... Sepasang mata sang tuan rumah--yang juga perempuan--tak lepas mengawasi sambil berusaha mendengarkan apa yang dibicarakan tamunya. Sesekali tersenyum. Namun hatinya berbisik waswas, Aduh, nanti kalau pecah bagaimana, ya? Sementara ibu tamu tetap duduk manis di sebelah tuab rumah, mengobrol dengan serunya. Hanya sesekali berseru, "Adek, jangan! Ayo kembalikan! Jangan ke sana-sana, tidak boleh!" ...

Pinjam Bukunya, Dong!

"Pinjam bukunya, dong!" Bagaimana reaksi teman-teman jika ada yang mengungkapkan kalimat itu? Meminjamkan buku dengan senang hati? Meminjamkan buku dengan waswas dan kasih pesan atau peringatan macam-macam? Atau menolak sama sekali? Kalau saya, ambil pilihan ketiga: menolak sama sekali. Saya paling anti meminjamkan buku pada orang lain. Silakan bilang saya pelit, sok, gaya, atau apa pun. Tapi saya jadi pelit bukan tanpa alasan. Banyak pengalaman buruk saya berhubungan dengan pinjam-meminjam buku. Buku kembali dalam keadaan lecek/lusuh, rusak, dicoret-coret, bahkan tidak kembali. Dulu saya tidak terlalu peduli ketika buku yang dipinjam rusak atau tidak kembali. Tapi sekarang buku menjadi benda kesayangan yang setelah diadopsi saya rawat dan jaga baik-baik. Jadi jika sampai terjadi kerusakan atau kehilangan pada buku yang dipinjam, jangan salahkan jika saya jadi galak!  Buku saya yang rusak setelah dipinjam teman Foto di atas adalah contoh buku yang ...

Amplop Sumbangan, Sosial Atau Gengsi?

Peristiwa ini sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Waktu itu, di lingkungan tempat sekolah saya berada, salah seorang warganya meninggal dunia. Kegiatan belajar mengajar diakhiri lebih cepat dan guru-guru mengimbau agar kami, para siswa menyempatkan diri untuk melayat ke rumah duka walau sebentar. Saya dan teman sebangku sepakat akan melayat bersama. Kami membeli amplop putih kecil untuk memasukkan uang sumbangan.  Teman saya melihat sejumlah uang yang akan saya masukkan dan cepat-cepat mencegah. "Jangan segitu! Kebanyakan!" Kemudian teman saya menjelaskan bahwa biasanya jumlah uang yang diberikan untuk sumbangan orang meninggal tidak banyak. Kalau sumbangan untuk orang menikah, barulah orang akan memberi banyak. Saya kurang memerhatikan aturan "sumbang-menyumbang". Karena ketika saya masih SMA, tentu saja yang punya kewajiban "nyumbang" adalah orangtua. Namun saya tidak paham dengan tradisi pemberian sumbangan yan...