Langsung ke konten utama

Postingan

Surprise Ultah Bikin Gerah

Pagi tadi saya menonton berita tentang seorang selebriti yang sedang merayakan ulang tahun. Bersama tampilan acara yang meriah, terdengarlah lagu pengiring ulang tahun yang cukup populer. "Hari ini, hari yang kau tunggu, bertambah satu tahun, usiamu ..." Kemudian ibu saya ikut-ikutan menyanyi sepatah dua patah, sembari berkata, "Jadi ingat waktu masih kerja di Toko XX. Pas ibu ulang tahun disetelin lagu itu kenceng banget, terus ditimpukin tepung sama teman-teman." Ha? Saya agak kaget karena baru pertama dengar cerita tersebut dari Ibu. Wah, ternyata waktu ulang tahun Ibu sempat dikerjain juga, ya? Ternyata tradisi mengerjai orang yang sedang ulang tahun tidak memandang umur. Buktinya, ibu saya yang masuk usia paruh baya dan sudah punya anak dua saja dilempari tepung. Saya lalu teringat cerita pengalaman orang-orang yang mendapat surprise ulang tahun--yang beberapa waktu lalu mondar-mandir di media sosial. Ada yang dikerjain teman sekantor sampai t...

Berburu Buku Enid Blyton

Enid Blyton.  Siapa yang tidak tahu penulis novel anak legendaris ini? Masa kecil saya pun menjadi lebih seru bersama buku-buku karya Enid Blyton. Sebutlah judul-judul yang sangat populer, serial Lima Sekawan, Sapta Siaga, Pasukan Mau Tahu, dan serial Si Badung. Perkenalan saya dengan buku Enid Blyton adalah saat masih di TK. Membaca pun belum lancar. Ibu meminjamkan buku anak berjudul Cermin Ajaib. Saya suka sekali dengan cerita-cerita dalam buku itu. Membacanya sampai berulang-ulang. Meskipun sudah tamat dan tahu semua ceritanya, saya masih meminta orang dewasa di rumah (Ibu dan Tante) membacakannya ulang. Lalu buku itu dikembalikan pada sang pemilik. Meskipun saya sangat sayang ..., saya tidak bisa menahannya karena buku itu memang bukan milik saya. Saat saya SMP, ibu saya bekerja sebagai karyawati di sebuah toko buku terkenal. Di toko buku itu ada perpustakaan khusus karyawan. Setiap pulang bekerja, Ibu membawakan buku-buku Enid Byton dan Harry Potter untuk sa...

Tradisi Lebaran Jangan Sampai Memberatkan

Hari Raya Idul Fitri telah berlalu, namun suasananya masih terasa. Sisa-sisa kue, sirup, mungkin THR atau salam tempel... Hehe... Tak apalah, asal jangan sisa utang! Utang puasa? Oh, bukan! Utang uang yang harus dibayar demi memenuhi kebutuhan hari raya. Nah, inilah yang akan saya bahas.  Menjelang hari raya kita pasti memikirkan banyak kebutuhan. Membeli makanan dan minuman untuk menjamu tamu, baju baru, sepatu baru, atau mukena baru. Meskipun baju baru atau sepatu baru (juga kue lebaran, ketupat, opor ayam dan kawan-kawan) bukanlah suatu keharusan atau bersifat wajib, tapi tampaknya di Indonesia sudah menjadi tradisi. Ada sebagian orang yang merasa bahwa Idul Fitri tanpa semua itu tidaklah seperti hari raya. Maka mereka mengusahakan dengan berbagai cara agar di hari raya ada baju baru, sepatu baru, plus aneka makanan lezat. Jika mereka sedang berpunya, tentu tak apa. Tapi bila tidak? Tabungan tak punya, THR pun tak ada, apa yang kemudian dilakukan? U...

Untuk Sinetron yang Suka Bertengkar

Dulu saya adalah penonton setia sinetron negeri ini. Namun sejak tahun 2000 ke atas tidak lagi. Selain karena sudah berpindah halauan, saya merasa semakin lama cerita sinetron semakin tidak bermutu. Ambillah contoh sinetron atau film televisi yang memiliki label "religi" dan menjadi andalan sebuah stasiun televisi swasta. Judulnya panjang bak gerbong kereta api. Nah, sudah tahu kan, maksud saya yang mana? Bungkusnya saja religi. Tapi isinya? Ceritanya? Selalu berputar pada orang-orang yang jahat-menjahati, saling menzalimi satu sama lain. Misalnya suami jahat pada istrinya, istri judes pada suaminya, menantu kurang ajar pada mertua, mertua sadis pada menantu, anak durhaka pada orangtua, atau orangtua sia-sia pada anak. Di dalam satu keluarga pasti ada anggota yang jahatnya luaarrrr... biasa, melampaui batas. Sampai-sampai membuat penonton bertanya-tanya, ini manusia atau setan? Selain itu cobalah perhatikan, amati film religi ini dari awal sampai akh...

Amplop Sumbangan, Sosial Atau Gengsi?

Peristiwa ini sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Waktu itu, di lingkungan tempat sekolah saya berada, salah seorang warganya meninggal dunia. Kegiatan belajar mengajar diakhiri lebih cepat dan guru-guru mengimbau agar kami, para siswa menyempatkan diri untuk melayat ke rumah duka walau sebentar. Saya dan teman sebangku sepakat akan melayat bersama. Kami membeli amplop putih kecil untuk memasukkan uang sumbangan.  Teman saya melihat sejumlah uang yang akan saya masukkan dan cepat-cepat mencegah. "Jangan segitu! Kebanyakan!" Kemudian teman saya menjelaskan bahwa biasanya jumlah uang yang diberikan untuk sumbangan orang meninggal tidak banyak. Kalau sumbangan untuk orang menikah, barulah orang akan memberi banyak. Saya kurang memerhatikan aturan "sumbang-menyumbang". Karena ketika saya masih SMA, tentu saja yang punya kewajiban "nyumbang" adalah orangtua. Namun saya tidak paham dengan tradisi pemberian sumbangan yan...